Surabaya—Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Amien Suyitno menekankan pentingnya penguatan framing dan inovasi strategis agar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) hadir sebagai pilihan utama yang unggul secara akademik, moral, dan reputasional. Penegasan tersebut disampaikan saat penutupan Konsolidasi Strategi Publikasi SPAN PTKIN serta Pengembangan Konstruk dan Framework UM PTKIN 2026 di Hotel DoubleTree Surabaya, Kamis (12/2/2026) malam.
Dalam arahannya, Dirjen Pendidikan Islam menyoroti bahwa tren penurunan angka lulusan sekolah yang melanjutkan ke perguruan tinggi merupakan fenomena global yang juga dialami PTN dan perguruan tinggi umum. Karena itu, diperlukan mini research nasional untuk memetakan secara objektif penyebab penurunan tersebut, baik faktor ekonomi, perubahan orientasi karier generasi muda, berkembangnya jalur non-kuliah, maupun dinamika kebijakan pendidikan.
Ia juga mendorong PTKIN melakukan inovasi strategis melalui pengembangan program studi berbasis Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), pembukaan program Double Degree S1 melalui kerja sama dengan kampus bereputasi, serta penguatan skema Fast Track (S1–S2) lima tahun. Selain itu, peninjauan kebijakan kuota SPAN, percepatan proses daftar ulang, serta penguatan peran humas dinilai penting agar informasi tersampaikan secara cepat, personal, dan tepat sasaran.
Dirjen Pendis turut menekankan konsolidasi humas nasional agar komunikasi publik tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif dan kreatif. Momentum keagamaan seperti Ramadhan dinilai dapat dimanfaatkan untuk kolaborasi dengan tokoh bereputasi dalam memperkuat citra dan daya tarik PTKIN.
Sementara itu, Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN 2026 yang juga Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Abd. Aziz, dalam laporannya menyampaikan bahwa pelaksanaan SPAN dan persiapan UM PTKIN tahun ini menunjukkan dinamika yang signifikan. Pelibatan Kantor Wilayah Kementerian Agama, Kankemenag Kabupaten/Kota, serta penguatan peran PJ Humas PTKIN dinilai berkontribusi dalam memperluas jangkauan sosialisasi secara nasional.
Ia mengungkapkan salah satu capaian penting berupa meningkatnya jumlah satuan pendidikan yang mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), dengan kenaikan sekitar seribu sekolah/madrasah dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan bertambahnya kepercayaan terhadap sistem seleksi nasional PTKIN.
Namun demikian, jumlah siswa yang difinalisasi oleh sekolah mengalami penurunan. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain penurunan jumlah siswa di beberapa daerah, pemetaan minat dan bakat yang semakin selektif, serta dampak kebijakan perguruan tinggi negeri umum terhadap strategi pendaftaran siswa.
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi catatan penting untuk memperkuat strategi publikasi, segmentasi sasaran, dan penguatan daya tarik PTKIN secara nasional. Ia juga menekankan pentingnya penguatan bidang kehumasan sebagai garda terdepan komunikasi publik melalui sinergi dengan Kanwil Kemenag, LPP Ma’arif, PDM Muhammadiyah, serta jaringan lembaga pendidikan lainnya. Peran guru Bimbingan Konseling dinilai strategis dalam memengaruhi preferensi siswa terhadap pilihan perguruan tinggi.
Kegiatan konsolidasi ini resmi ditutup oleh Dirjen Pendidikan Islam dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, menandai berakhirnya rangkaian forum strategis penguatan publikasi dan pengembangan sistem seleksi nasional PTKIN 2026.
