Malang — Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Phil. H. Kamaruddin Amin, menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, memegang peran sentral dalam menentukan kemajuan dan arah sebuah bangsa. Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Tahun 2026 yang digelar di Hotel Singhasari, Kota Batu, Malang, Kamis (08/01/2026).
Dalam arahannya, Prof. Kamaruddin Amin menyampaikan bahwa tidak ada satu pun negara maju di dunia yang tidak ditopang oleh keberadaan perguruan tinggi yang berkualitas. Ia mencontohkan Amerika Serikat dengan universitas-universitas kelas dunia seperti Harvard University, serta negara-negara Eropa dengan tradisi akademik kuat seperti Oxford di Inggris dan berbagai universitas riset di Jerman. Menurutnya, kampus merupakan barometer kemajuan suatu bangsa, sehingga cita-cita Indonesia untuk menjadi negara maju harus diback-up secara serius oleh perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing.
Sekjen Kemenag juga menyoroti keterkaitan erat antara karakter perguruan tinggi dengan artikulasi keberagamaan suatu bangsa. Ia menjelaskan bahwa corak keberagamaan di suatu negara tidak dapat dilepaskan dari peran perguruan tingginya. Keberagamaan di Indonesia yang dikenal moderat, toleran, dan inklusif merupakan hasil dari eksistensi lembaga pendidikan keagamaan seperti madrasah dan PTKIN yang telah lama mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Bangsa ini patut bersyukur memiliki PTKIN. Ia menjadi kekhasan Islam Indonesia sekaligus penjaga gawang keberagamaan umat. Di sinilah lahir kelas menengah terdidik yang kontribusinya sangat besar bagi keberlanjutan bangsa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Kamaruddin Amin menegaskan bahwa tantangan Indonesia ke depan semakin dinamis, terutama dengan derasnya arus digitalisasi dan media sosial. Kondisi demografis Indonesia yang didominasi oleh generasi Z dan milenial menuntut PTKIN untuk tidak menutup mata terhadap perubahan tren, pola pikir, dan kebutuhan generasi muda sebagai pewaris masa depan bangsa, sehingga perguruan tinggi harus mampu merespons realitas tersebut secara kreatif dan transformatif.
Tak hanya itu, Ia menekankan bahwa PTKIN memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu merawat keberagaman Indonesia serta menjaga artikulasi keberagamaan yang moderat dan berkeadaban.
“Agama harus memainkan peran transformatif dalam kehidupan berbangsa. Tidak cukup hanya berbicara akidah dan spiritualitas, tetapi juga harus berbicara tentang kemanusiaan, budaya, ekonomi, politik, keadilan, dan kesejahteraan,” tegasnya.
Dalam konteks kebijakan nasional, Prof. Kamaruddin Amin menjelaskan bahwa delapan program prioritas Kementerian Agama merupakan turunan dari Asta Cita Presiden yang kemudian dijabarkan dalam RPJMN dan Renstra Kemenag. Salah satu fokus utamanya adalah pemberdayaan ekonomi umat, di mana perguruan tinggi dinilai sebagai aktor paling strategis. Oleh karena itu, program studi yang ada di PTKIN didorong untuk melakukan hilirisasi keilmuan agar keberadaannya benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Ia juga menyinggung pentingnya penguatan filantropi Islam melalui zakat dan wakaf sebagai sumber pendanaan alternatif kampus. Menurutnya, wakaf uang dan pengelolaan alumni yang sistematis dapat menjadi penopang keberlanjutan perguruan tinggi, sebagaimana praktik baik yang berkembang di berbagai universitas dunia.
Menutup arahannya, Sekjen Kemenag menegaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus berorientasi pada dampak dan hasil nyata (outcome), bukan sekadar aktivitas internal. Sebagai insan akademik, sivitas perguruan tinggi dituntut mampu merumuskan gagasan secara ilmiah sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan secara faktual oleh umat, masyarakat, dan bangsa.
