Ramadan dan Sunah Nabi

Kontributor:

Lentera Ramadhan 01 Ahmad Sadad 02

Oleh: Dr. Ahmad Sadad, M.Ag. (Pengajar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani yang dirancang Allah untuk membentuk manusia bertakwa. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa puasa diwajibkan agar kita mencapai derajat takwa. Namun pertanyaannya, apakah cukup hanya dengan menahan diri dari makan dan minum? Di sinilah pentingnya menghidupkan sunah Nabi Muhammad Saw sebagai penyempurna kualitas puasa kita.

Rasulullah Saw pernah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Pesan ini sangat relevan. Puasa tanpa diiringi penguatan spiritual dan akhlak berpotensi menjadi ritual kosong. Ramadan sejatinya adalah momentum untuk memperkaya puasa dengan amalan-amalan sunah agar ibadah kita tidak kering, melainkan hidup dan bermakna.

Mengapa Ramadan menjadi waktu yang istimewa untuk menghidupkan sunah? Karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Dalam hadis disebutkan bahwa satu kebaikan dapat dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Artinya, Ramadan adalah “musim panen pahala”. Maka, menghidupkan sunah di bulan ini bukan hanya anjuran moral, tetapi juga peluang spiritual yang sangat besar.

Salah satu sunah yang paling relevan adalah membaca Al-Qur’an. Satu huruf bernilai sepuluh kebaikan di hari biasa, apalagi di bulan Ramadan. Namun yang perlu digarisbawahi bukanlah ambisi menargetkan khatam berkali-kali tanpa konsistensi. Rasulullah Saw menegaskan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit. Prinsip istiqamah ini penting, terutama bagi mahasiswa dan generasi muda yang memiliki banyak aktivitas akademik dan organisasi. Jika satu halaman terasa berat, mulailah dengan satu ayat, tetapi lakukan secara konsisten.

Selain membaca Al-Qur’an, memperbanyak selawat juga merupakan sunah yang ringan tetapi berdampak besar. Satu kali selawat dibalas sepuluh kebaikan. Amalan ini bisa dilakukan kapan saja—dalam perjalanan, di sela tugas, bahkan ketika menunggu waktu berbuka. Ramadan memberi kita kesempatan membiasakan lisan dengan dzikir dan doa, agar hati tetap terhubung dengan Allah di tengah kesibukan dunia.

Namun, Ramadan tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal (hablum minallah). Rasulullah Saw dikenal sebagai pribadi paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas harus berbanding lurus dengan kepedulian sosial. Memberi takjil, membantu teman yang kesulitan, atau sekadar berbagi makanan sederhana adalah bentuk nyata implementasi sunah. Puasa yang benar akan melahirkan empati dan kepekaan terhadap sesama.

Di era digital, tantangan berpuasa juga meluas ke ranah media sosial. Menjaga lisan kini berarti juga menjaga “tangan digital”. Al-Qur’an memerintahkan untuk berkata benar dan menjaga ucapan. Dalam konteks hari ini, itu berarti tidak menyebarkan kebencian, tidak merendahkan orang lain demi konten, serta tidak mudah berkomentar negatif. Seorang Muslim adalah mereka yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya. Maka, Ramadan seharusnya membentuk etika digital yang lebih santun dan bertanggung jawab.

Konsistensi memang tidak mudah. Di dalam Ramadan, motivasi pahala yang berlipat ganda menjadi pendorong kuat. Tetapi tantangan sebenarnya adalah setelah Ramadan berakhir. Karena itu, penting menanamkan pemahaman bahwa sunah bukan beban tambahan, melainkan pedoman hidup. Ia bukan kewajiban baru yang memberatkan, tetapi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kualitas diri.

Pada akhirnya, keberhasilan Ramadan dapat diukur dengan dua pertanyaan reflektif. Pertama, apakah setelah Ramadan kita merasa lebih dekat dengan Allah? Apakah azan lebih menggugah hati kita? Apakah kita lebih ringan bersedekah dan berbuat baik? Kedua, apakah orang-orang di sekitar kita merasakan manfaat dari keberadaan kita? Jika jawabannya iya, maka Ramadan telah berhasil menjadi madrasah perubahan.

Ramadan adalah waktu emas. Ia bukan hanya tentang sebulan ibadah, tetapi tentang membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan. Menghidupkan sunah Nabi di bulan ini adalah langkah strategis untuk membentuk pribadi yang lebih bertakwa, peduli, dan berakhlak mulia. Semoga Ramadan tidak berlalu sebagai rutinitas tahunan, tetapi menjadi titik balik menuju kualitas diri yang lebih baik.

(Materi disampaikan dalam Program “Lentera Ramadhan” yang ditayangkan di Channel YouTube SATU Televisi. tayangan dapat disimak melalui link: https://www.youtube.com/watch?v=TdrWnhZ8WE4 ).

Photographer: Kontributor
Skip to content