Tulungagung – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag., hadir dan memberikan pembekalan di hadapan ribuan mahasiswa baru dalam rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung pada hari kedua, Kamis (27/08/2026). Dalam sambutannya, Dirjen Pendis banyak menyoroti karakter generasi muda tentang kebebasan menentukan masa depan, hingga pentingnya menyeimbangkan ilmu dunia dan akhirat.
Dalam sambutannya, Prof. Suyitno menyoroti karakter Generasi Z yang tumbuh dan hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi digital. Ia menggambarkan generasi ini sebagai kelompok yang tumbuh dengan belanja daring, belajar lewat platform digital, dan berbagai aktivitas hidup lain yang serba digital sejak dini.
Dirjen Pendis kemudian mengajak mahasiswa baru untuk merefleksikan perubahan besar yang mereka alami ketika beralih dari bangku sekolah menuju perguruan tinggi. Jika sebelumnya kehidupan sebagai siswa lebih banyak berada dalam sistem yang terstruktur, kehidupan mahasiswa memberikan ruang yang lebih luas untuk menentukan arah dan pilihan masa depan.
“Sekarang kalian bebas menentukan masa depan anda, pilihan-pilihan hidup anda. Tapi jangan lupa, kebebasan hidup anda adalah kebebasan yang juga menjadi tanggung jawab anda,” pesannya.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjalani kehidupan hanya dengan mengikuti jalan orang lain. Setiap orang memiliki potensi, kemampuan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Oleh karena itu, mahasiswa harus berani mengenali dirinya sendiri dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“You can be yourself. Kamu tidak bisa seperti ayahmu atau mungkin dosenmu. Kamu bisa menjadi siapa pun, tapi kamu harus bertanggung jawab terhadap pilihamu,” tegas Dirjen.
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Pendis juga menekankan bahwa masa depan seseorang tidak selalu harus berjalan secara linier sesuai dengan program studi atau fakultas yang ditempuh. Berbagai kemungkinan terbuka luas bagi mahasiswa untuk menentukan jalan hidup dan kariernya.
Menurutnya, perkembangan zaman membuka peluang bagi siapa saja untuk berkembang di berbagai bidang. Karena itu, mahasiswa tidak perlu membatasi diri pada satu gambaran masa depan. Kehidupan dapat menghadirkan perjalanan yang berbeda dari apa yang sebelumnya direncanakan.
“Ternyata hidup ini tidak selalu linier dan tidak selalu sesuai dengan harapan. Our life is not always as our expectation,” tambahnya.
Selain mendorong mahasiswa untuk berani menentukan masa depan, Dirjen Pendis juga mengajak mahasiswa baru agar tidak ragu untuk aktif dan mencari pengalaman di luar ruang kuliah. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dan beraktivitas di tengah masyarakat dapat menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa.
Prof. Suyitno bahkan menyebut banyaknya tokoh yang saat ini berkiprah di pemerintahan yang memiliki pengalaman sebagai aktivis pada masa mudanya.
“Rata-rata mereka yang sekarang duduk di pemerintahan adalah aktivis. Maka jangan ragu-ragu menjadi aktivis, sepanjang tidak boleh meninggalkan tugas pokok kita yaitu belajar,” ujar Dirjen.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa belajar tidak hanya dilakukan melalui materi yang tertulis dan diajarkan secara formal. Mahasiswa juga perlu belajar melalui pengalaman dan realitas kehidupan di masyarakat.
Pembelajaran bagi mahasiswa tidak hanya berlangsung melalui materi yang disampaikan di ruang kuliah. Dirjen Pendis menjelaskan bahwa terdapat dua bentuk pembelajaran, yakni al-matlu atau ilmu yang tertulis dan ghairu matlu atau ilmu yang tidak tertulis. Al-matlu merupakan pembelajaran tekstual yang diperoleh mahasiswa melalui materi dan pengajaran dari dosen.
Sementara itu, ghairu matlu merupakan pembelajaran kontekstual yang lahir dari pengalaman langsung di masyarakat, dunia aktivis, maupun kehidupan di luar kampus. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk wawasan dan kemampuan mahasiswa dalam memahami realitas kehidupan.
Dalam bagian lain, Dirjen Pendis mengajak mahasiswa untuk kembali merefleksikan alasan memilih UIN sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Ia menjelaskan bahwa terdapat berbagai orientasi dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan yang menekankan penguasaan ilmu-ilmu duniawi hingga pendidikan yang berfokus pada pendalaman ilmu agama.
Keduanya, menurutnya, merupakan pilihan yang baik sesuai dengan tujuan hidup masing-masing. Namun, UIN memiliki posisi tersendiri karena berupaya memadukan penguasaan ilmu dunia dan ilmu agama.
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang ingin menguasai berbagai bidang kehidupan dunia dapat menekuni ilmu-ilmu seperti ilmu sosial, humaniora, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Sementara itu, mereka yang ingin secara khusus mendalami ilmu keagamaan juga dapat menempuh jalur pendidikan yang berorientasi pada pendalaman ilmu agama.
“UIN ada di dua-duanya, Bainahuma. Kalau kita ingin dapat dua-duanya, ilmu dunia dapat, ilmu akhirat dapat, maka jawabannya UIN,” ungkapnya.
Bagi mahasiswa baru, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan di UIN tidak hanya bertujuan mempersiapkan lulusan untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan profesional, tetapi juga membangun manusia yang memiliki nilai spiritual dan orientasi kehidupan yang lebih luas. Integrasi ilmu tersebut menjadi kekuatan UIN dalam menjawab tantangan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat.
Mengakhiri pesannya, Dirjen Pendis menyampaikan harapan agar mahasiswa baru UIN SATU Tulungagung mampu memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang untuk belajar, menemukan jati diri, dan mempersiapkan masa depan.
Ia berharap mahasiswa tidak takut menghadapi berbagai kemungkinan dalam perjalanan hidup. Dengan keberanian menentukan pilihan, kesungguhan dalam belajar, dan tanggung jawab terhadap setiap keputusan, mahasiswa memiliki peluang untuk berkembang dan memberikan kontribusi di bidang apa pun yang mereka pilih.
“Selamat sukses, mudah-mudahan kalian menjadi orang-orang hebat, bisa betul-betul menaklukkan dunia sekaligus berbahagia di akhirat,” pungkasnya.
Pesan Dirjen Pendis tersebut menjadi motivasi bagi 4.038 mahasiswa baru UIN SATU Tulungagung yang tengah memulai perjalanan akademiknya. Memasuki dunia kampus bukan hanya tentang berpindah dari bangku sekolah ke perguruan tinggi, tetapi juga menjadi awal untuk belajar menentukan arah hidup, memperluas pengalaman, serta membentuk karakter sebagai generasi masa depan.
Semangat tersebut selaras dengan tema PBAK UIN SATU Tulungagung Tahun 2026, “Cakrawala Intelektual Mengawal Peradaban Digital”. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa baru diharapkan mampu menjadi generasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas, nilai, dan tanggung jawabnya sebagai insan akademik.
Dengan bekal ilmu yang diperoleh di ruang akademik serta pengalaman yang didapatkan dari kehidupan sosial, mahasiswa UIN SATU Tulungagung diharapkan mampu mengambil peran dalam membangun masa depan serta menaklukkan berbagai tantangan dunia sekaligus tetap memiliki orientasi untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.
