Tulungagung — Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) didorong untuk mengambil peran yang lebih strategis dalam menjawab berbagai tantangan bangsa. Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A., saat menghadiri forum Evaluasi Pendaftaran UM-PTKIN 2026 yang digelar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Minggu (7/6/2026).
Di hadapan para rektor dan pimpinan PTKIN se-Indonesia, Kamaruddin Amin menegaskan bahwa PTKIN merupakan salah satu kekuatan penting Kementerian Agama dalam membangun masa depan bangsa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, perguruan tinggi keagamaan Islam tidak cukup hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi harus mampu menghadirkan perubahan yang nyata bagi masyarakat.
“PTKIN harus menjadi game changer dalam transformasi bangsa. Kontribusi kita harus riil, konkret, fundamental, serta dapat dirasakan oleh seluruh warga bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh terjebak menjadi menara gading akademik yang hanya berfokus pada urusan internal kelembagaan. Sebaliknya, kampus harus mampu hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi umat, hingga pembangunan sosial yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan global dan nasional, seperti perlambatan ekonomi dunia, perubahan iklim, transformasi digital, hingga persoalan kemiskinan yang membutuhkan kontribusi dari berbagai sektor, termasuk perguruan tinggi.
“Kita tidak bisa hanya sibuk memikirkan kampus kita sendiri. Kita harus keluar dan memberikan dampak nyata bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kamaruddin Amin juga mengapresiasi penyelenggaraan forum yang memanfaatkan ruang terbuka di lingkungan UIN SATU Tulungagung. Menurutnya, suasana kampus yang hijau dan asri mencerminkan semangat penguatan ekoteologi yang saat ini menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama.
Ia menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan hidup bukan semata persoalan sosial atau administratif, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga kewajiban agama dan kewajiban eksistensial yang harus diterjemahkan dalam tindakan nyata,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak kesadaran ekologis di tengah masyarakat melalui pendidikan, riset, maupun program pengabdian yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Selain isu lingkungan, Kamaruddin Amin juga menyoroti pentingnya peran PTKIN dalam mendukung pengembangan ekonomi syariah nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia melalui penguatan industri halal, keuangan syariah, bisnis syariah, serta berbagai instrumen keuangan sosial Islam.
Potensi tersebut, lanjutnya, perlu didukung oleh sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan memiliki pemahaman keislaman yang kuat. Dalam konteks inilah PTKIN memiliki posisi yang sangat strategis.
“PTKIN memiliki sumber daya manusia, kelembagaan, dan keilmuan yang sangat potensial untuk menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” jelasnya.
Sekjen Kemenag juga mendorong PTKIN untuk terus memperluas jejaring kerja sama internasional serta mengembangkan berbagai inovasi akademik yang mampu meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global. Ia mencontohkan sejumlah praktik baik yang telah dilakukan beberapa PTKIN melalui program kolaborasi internasional, riset bersama, hingga skema double degree dengan perguruan tinggi luar negeri.
Menurutnya, berbagai inovasi dan keberhasilan yang telah dicapai oleh satu kampus perlu didiseminasikan kepada PTKIN lainnya agar kemajuan pendidikan tinggi keagamaan Islam dapat berlangsung secara kolektif dan berkelanjutan.
Dalam arahannya, Kamaruddin Amin juga menegaskan pentingnya penguatan paradigma integrasi keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas PTKIN. Integrasi antara ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan modern dinilai menjadi modal penting dalam menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat identitas akademik perguruan tinggi keagamaan Islam.
Forum yang berlangsung di Lapangan Padel Timur UIN SATU Tulungagung tersebut turut dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Sahiron, M.A., Plt. Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharuddin, S.M., M.M., Ketua Forum Rektor PTKIN, serta para pimpinan PTKIN dari berbagai daerah di Indonesia.
Melalui forum evaluasi ini, para pimpinan PTKIN tidak hanya membahas pelaksanaan UM-PTKIN 2026, tetapi juga memperkuat konsolidasi dan kolaborasi dalam merumuskan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Islam. Harapannya, PTKIN semakin mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan yang unggul, inovatif, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat luas.
