Tulungagung — UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung menyelenggarakan event Gelar Karya Guru Besar dalam rangka Dies Natalis ke-58, pada Selasa (4/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 5 Gedung Prajnaparamita UIN SATU Tulungagung tersebut mengangkat tema “Manusia, Agama, dan Teknologi: Sinergi Intelektual Ke-Islam-an Menuju Indonesia Emas 2045.”
Forum akademik tersebut menjadi ruang bagi para guru besar UIN SATU Tulungagung untuk memperkenalkan sekaligus mendiseminasikan berbagai karya intelektual yang telah dihasilkan. Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I., Rektor UIN SATU Tulungagung, sebagai keynote speaker, serta Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, sebagai pembahas.
Turut memaparkan karya dalam forum tersebut sejumlah guru besar UIN SATU Tulungagung, yakni:
- Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag., membedah empat karya sekaligus: Idiom-idiom Islam di Indonesia (2026), Beyond Tradisionalisme: Kritik Rasionalitas, Tradisi, dan Spirit Zaman Baru (2026), Tradisi yang Terus Bergerak: Fragmen Intelektualisme NU dan Pencarian Islam Humanis (2026), dan Islam Metodologis: Model, Rumusan, dan Strategi (2026);
- Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I., memaparkan karyanya Eksplorasi Model Pembelajaran Imersif: Dalam Merancang Pengalaman Belajar yang Transformasional di Era Abad ke-21 (2026);
- Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I., membedah dua karya, yaitu Islam dan Disabilitas: Aksesibilitas, Mediatisasi, Kekerasan Seksual dan Penegakan Hukum (2026) dan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Moderasi Beragama: Ikhtiar Membangun Kerukunan dalam Masyarakat Majemuk (2026);
- Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag., memaparkan karyanya Teologi Islam: Akar-akar Kemunculan dan Aliran-aliran di dalamnya (2026); dan
- Prof. Dr. M. Muntahibun Nafis, M.Ag., membedah dua karya, yaitu Music and Islamic Expression in Public Space: Sufi Music in Indonesia and United Kingdom (2026) dan Ethno-Stream dalam Pembelajaran Studi Islam (2025).
Dalam arahannya, Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Abd. Aziz menekankan pentingnya melihat perkembangan teknologi bukan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan dengan agama. Sebaliknya, teknologi perlu ditempatkan sebagai alat yang dapat dimanfaatkan manusia, sementara agama berperan sebagai kompas dalam menentukan arah penggunaannya.
Menurut Rektor, tema yang diangkat dalam Gelar Karya Guru Besar kali ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Perkembangan teknologi digital berlangsung secara masif dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Ia memberikan gambaran sederhana mengenai ketergantungan manusia terhadap teknologi digital, khususnya telepon pintar. Jika dahulu seseorang masih dapat meninggalkan keluarga selama beberapa hari, saat ini meninggalkan telepon genggam selama satu atau beberapa jam saja dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
“Ini sudah menggejala di kita, artinya ini menjadi sesuatu yang luar biasa dari perkembangan teknologi digital yang ada sekarang,” ujar Rektor.
Perkembangan tersebut, semakin terlihat dengan hadirnya artificial intelligence (AI), animasi, serta berbagai fitur teknologi baru yang berkembang dengan sangat cepat. Kondisi ini kemudian menghadirkan tantangan baru bagi manusia, termasuk bagi masyarakat yang memiliki kehidupan dan orientasi keagamaan.
Pertanyaan pentingnya, menurut Rektor adalah bagaimana teknologi dapat mendukung kehidupan manusia dan bagaimana relasinya dengan agama. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan kesiapan masyarakat dalam menghadapi Indonesia Emas 2045.
“Apakah teknologi mendukung pada kita sebagai manusia dan apa hubungannya juga dengan agama,” ungkapnya.
Rektor menegaskan bahwa manusia harus tetap ditempatkan sebagai subjek dalam kehidupan. Teknologi tidak boleh menjadikan manusia sebagai objek yang dikendalikan oleh perkembangan teknologi. Dalam konteks tersebut, agama memiliki posisi penting sebagai pedoman dalam memanfaatkan teknologi secara tepat.
Menurut Rektor, ketiga elemen tersebut manusia, teknologi, dan agama perlu disatukan dan tidak lagi dipandang secara dikotomis. Penguasaan teknologi justru menjadi kebutuhan penting, termasuk bagi para ahli agama.
Ia mencontohkan perubahan cara manusia mengakses sumber-sumber keislaman. Jika dahulu seseorang harus membawa kitab dalam jumlah banyak ketika melakukan kajian atau diskusi, saat ini berbagai kitab dapat diakses melalui perangkat digital yang berada dalam satu genggaman.
Karena itu, Rektor menilai penguasaan teknologi bagi ahli agama merupakan sesuatu yang sangat urgent. Teknologi dapat menjadi instrumen untuk memperluas akses terhadap pengetahuan keislaman apabila dimanfaatkan secara tepat.
“Ini membutuhkan ahli-ahli agama dalam menguasai teknologi. Kita bisa memanfaatkan teknologi dan jangan sampai kita sebagai manusia dimanfaatkan oleh teknologi,” tegasnya.
Perkembangan teknologi juga membawa tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan dan dakwah Islam. Rektor menyinggung karakter mahasiswa baru yang mayoritas merupakan bagian dari Generasi Z, yakni generasi yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan teknologi digital. Ia menyampaikan bahwa UIN SATU juga telah melakukan survei terhadap mahasiswa baru yang menunjukkan kuatnya kedekatan generasi tersebut dengan teknologi.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian para tokoh dan ahli agama. Apabila tokoh agama tidak mampu memahami dan menguasai teknologi, terdapat risiko munculnya berbagai informasi maupun pemahaman keagamaan yang tidak dapat difilter dengan baik oleh generasi muda.
“Bisa dibayangkan bahwa tokoh-tokoh agama kita tidak bisa menguasai teknologi saat ini, tentu nanti akan ada masukan-masukan yang mungkin tidak bisa difilter anak-anak kita, kemudian ajaran kita jadi tidak sampai,” jelasnya.
Salah satu gagasan yang disampaikan Rektor adalah pemanfaatan AI untuk menghidupkan kembali warisan dan pemikiran ulama terdahulu agar dapat dikenalkan kepada generasi penerus. Ia mencontohkan kemungkinan pemanfaatan teknologi untuk mengarsipkan dan menghadirkan kembali sosok ulama yang telah memberikan kontribusi pemikiran keislaman di masa lalu.
Dengan memanfaatkan arsip berupa rekaman suara maupun gambar yang masih tersedia. Menurutnya, teknologi dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan generasi masa lalu dengan generasi sekarang. Dengan pemanfaatan teknologi secara tepat, pemikiran, suara, dan pemahaman keagamaan para tokoh terdahulu dapat terus dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Bagaimana kita menghubungkan manusia zaman dulu dengan manusia sampai zaman sekarang, perkembangan teknologi yang kayak bagaimana, dan tentu pemahaman-pemahaman agama yang dipahami tokoh-tokoh kita, bagaimana pemahaman agama bisa di-insert pada generasi penerus kita,” tuturnya.
Lebih lanjut, Rektor menjelaskan bahwa penyelenggaraan Gelar Karya Guru Besar merupakan bagian dari upaya UIN SATU memberikan ruang bagi para guru besar untuk memperkenalkan karya dan pemikirannya kepada publik.
Ia menyebut bahwa sebenarnya terdapat banyak karya dan pemikiran yang telah dihasilkan oleh para guru besar UIN SATU. Namun, karya-karya tersebut dinilai belum seluruhnya terdokumentasikan dan terpublikasikan dengan baik sehingga diperlukan ruang khusus untuk mendiseminasikannya.
“Sebetulnya sangat banyak yang ditelorkan para guru besar kita, tapi belum termedia dengan bagus. Karena itu kita kasih fasilitas acara ini lalu disepakati dengan nama Gelar Karya Guru Besar,” terangnya.
Rektor juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah berjalan untuk kedua kalinya dan direncanakan dapat dilaksanakan secara rutin dua kali dalam satu semester.
Melalui forum tersebut, UIN SATU tidak hanya ingin menampilkan karya para guru besar, tetapi juga membangun ruang dialog akademik yang mampu menjawab persoalan-persoalan aktual, termasuk hubungan antara perkembangan teknologi, kehidupan manusia, dan keberagamaan.
Rektor berharap tema manusia, agama, dan teknologi tidak berhenti sebagai diskursus akademik, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan masyarakat menghadapi masa depan. Gelar Karya Guru Besar UIN SATU Tulungagung menjadi ruang penting untuk mempertemukan kekuatan intelektual guru besar dengan tantangan perubahan zaman.
