Mengatur Jadwal Kuliah dan Ibadah di Bulan Ramadan

Prof Chusnul 01

Oleh : Prof. Dr. Chusnul Chotimah, M.Ag. (Guru Besar bidang ilmu Manajemen Lembaga Pendidikan Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Bulan Ramadhan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan akademisi, terutama mahasiswa. Di satu sisi, ada tuntutan spiritual untuk meningkatkan kualitas ibadah, namun di sisi lain, ritme perkuliahan dan tugas-tugas organisasi tetap berjalan seperti biasa. Fenomena ini sering kali menimbulkan dilema, di mana mahasiswa merasa terjebak antara rasa kantuk yang luar biasa di siang hari dan semangat sosial yang tinggi di malam hari.

Paradigma yang sering berkembang di kalangan mahasiswa adalah menjadikan puasa sebagai “alibi” untuk menurunkan produktivitas. Anggapan bahwa “tidurnya orang berpuasa adalah ibadah” sering disalahpahami sebagai legalitas untuk bermalas-malasan. Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Prof. Chusnul Khatimah, jika tidur saja bernilai pahala, maka aktivitas produktif seperti belajar dan menuntut ilmu tentu akan mendapatkan ganjaran pahala yang jauh lebih berlipat ganda.

Sebagai mahasiswa, kita harus mampu mendekonstruksi pemikiran bahwa Ramadhan adalah waktu untuk beristirahat total. Sebaliknya, bulan ini merupakan momentum emas untuk meningkatkan kapasitas diri. Setiap kegiatan akademik yang kita jalani, jika diniatkan sebagai ibadah ghairu mahdhah, akan menjadi nilai tambah yang luar biasa di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, rasa “low-bat” di jam-jam rawan perkuliahan harus dilawan dengan spirit mencari keberkahan.

Salah satu tantangan nyata bagi “Generasi Z” saat ini adalah fenomena ngabuburit dan buka bersama (bukber) yang sering kali tidak terencana dengan baik. Tak jarang, persiapan berburu takjil yang memakan waktu berjam-jam justru menguras energi sehingga mengabaikan ibadah pokok lainnya.

Manajemen waktu yang buruk membuat skala prioritas menjadi berantakan, di mana kesenangan sesaat lebih diutamakan daripada kewajiban spiritual.

Prof. Chusnul menekankan bahwa setiap mahasiswa harus mampu menjadi manajer bagi dirinya sendiri. Memiliki target yang jelas selama bulan Ramadhan sangatlah penting agar waktu tidak terbuang percuma. Tanpa adanya target—baik itu target khatam Al-Qur’an maupun target penyelesaian tugas kuliah—mahasiswa akan cenderung mengikuti arus tanpa pencapaian yang nyata di akhir bulan.

Kedisiplinan yang diajarkan dalam ibadah puasa, seperti bangun sahur dan berbuka tepat waktu, seharusnya ditransformasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan sebenarnya adalah laboratorium kedisiplinan. Jika kita bisa disiplin menahan lapar dan haus, maka secara logika kita juga harus bisa disiplin dalam mengatur jadwal kuliah, waktu organisasi, dan jam istirahat secara seimbang.

Penerapan disiplin ini sejalan dengan konsep pembagian waktu yang ada dalam Al-Qur’an, yakni waktu fajar, siang, dan malam. Waktu fajar harus dimulai dengan spirit dan perencanaan yang matang, siang hari digunakan untuk aktivitas produktif, dan malam hari dimanfaatkan untuk kontemplasi serta pendekatan diri kepada Sang Pencipta. Keteraturan ini adalah kunci agar manusia tidak termasuk golongan yang merugi.

Di era digital, tantangan manajemen waktu semakin berat dengan adanya godaan media sosial. Penggunaan gawai untuk scrolling TikTok atau Instagram seringkali memakan waktu yang sangat lama tanpa kita sadari. Namun, media digital tidak harus dijauhi, melainkan dimanfaatkan. Jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan dan mencari ilmu, maka aktivitas digital tersebut pun bisa bertransformasi menjadi ibadah yang produktif.

Untuk mencapai keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi, tips “FEBI” (Fokus, Energi Manajemen, Barokah, dan Istiqamah) menjadi sangat relevan. Mahasiswa perlu fokus pada tujuan, cerdik mengelola energi tubuh agar tetap fit, mengedepankan nilai keberkahan dalam setiap langkah, dan yang terpenting adalah istiqamah atau konsisten dalam menjalankan rencana-rencana yang telah dibuat.Manajemen energi juga menjadi poin krusial yang sering diabaikan. Seringkali energi habis digunakan untuk hal-hal yang tidak perlu di pagi hari, sehingga di siang hari mahasiswa kehilangan fokus saat di kelas. Mengatur porsi istirahat dan aktivitas fisik sangat penting agar kesehatan tubuh tetap terjaga selama menjalankan ibadah puasa sambil tetap aktif berkuliah.

Pada akhirnya, kemenangan di bulan Ramadhan bukan ditentukan oleh seberapa meriah perayaan Idul Fitri, melainkan seberapa sukses kita me-manage waktu untuk meraih keberkahan. Ramadhan bukan alasan untuk berhenti bergerak, justru di bulan inilah ketangguhan mental dan fisik kita sebagai mahasiswa diuji untuk tetap produktif meski dalam kondisi terbatas.

Sebagai penutup, manajemen waktu adalah pembeda antara mereka yang mendapatkan esensi Ramadhan dengan mereka yang hanya mendapatkan lapar dan haus. Dengan skala prioritas yang tepat, mahasiswa tidak perlu mengorbankan salah satu antara prestasi akademik dan kualitas ibadah. Keduanya bisa berjalan beriringan menuju satu titik, yaitu keberhasilan dunia dan akhirat.

(Materi disampaikan dalam Program “Lentera Ramadhan” yang ditayangkan di Channel YouTube SATU Televisi. tayangan dapat disimak melalui link: https://www.youtube.com/watch?v=UiR-JKKyBaE )

Photographer: Kontributor
Skip to content