Tulungagung — Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU Tulungagung) menggelar Kuliah Umum bertajuk “Integrasi Ekoteologi dalam Optimalisasi Efisiensi Energi demi Keberlanjutan Ekosistem”, pada Senin (27/04/2026) di Aula Gedung Prajnaparamita.
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa, dosen, dan seluruh sivitas akademika ini turut menghadirkan Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Abd. Aziz dan Ketua Komisi VI DPR RI, Dr. Anggia Erma Rini sebagai narasumber utama.
Forum ini menjadi ruang pertemuan strategis antara dunia akademik dan kebijakan publik, dalam menjembatani kajian ekoteologi yang telah berkembang di lingkungan kampus dengan perspektif regulasi dan legislasi yang selama ini masih didominasi pendekatan teknis ekonomis.
Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Abd. Aziz dalam sambutannya menegaskan bahwa isu ekoteologi dan efisiensi energi sejatinya telah lama menjadi diskursus para akademisi, namun perspektif pembuat kebijakan masih jarang hadir secara langsung dalam forum semacam ini.
“Selama ini integrasi ekoteologi dan efisiensi energi banyak dikaji oleh para ahli, tetapi belum banyak dikupas oleh para pengambil kebijakan. Kehadiran Ketua Komisi VI DPR RI hari ini menjadi momentum penting untuk menjembatani dua perspektif tersebut,” ujar Rektor.
Ia berharap melalui forum ini akan lahir berbagai gagasan, inspirasi, serta kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan dan kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Rektor menjelaskan bahwa UIN SATU telah menginisiasi konsep ekoteologi sejak dua tahun terakhir, selaras dengan arah kebijakan negara Rektor turut menginisiasi melalui gagasan program Religreen. Bagi UIN SATU, ekoteologi dan Religreen bukan sekadar aktivitas simbolik, melainkan komitmen jangka panjang untuk merawat dan menjaga keberlangsungan ekosistem.
“Ekoteologi bagi kami adalah kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab sebagai penjaga alam. Ini bukan hanya soal menanam, tetapi merawat dan menjaga keberlangsungan kehidupan,” ungkap Rektor.
Sebagai bentuk implementasi nyata, UIN SATU mulai menerapkan kebijakan berbasis efisiensi energi, salah satunya dengan penggunaan tenaga surya di beberapa gedung kampus. Selain itu, kampus juga telah mengadopsi kebijakan paperless dengan tidak lagi mewajibkan mahasiswa mencetak skripsi maupun tesis.
“Kami menyadari bahwa penggunaan kertas berkaitan langsung dengan keberlanjutan alam. Karena itu, kami mulai dari hal sederhana namun berdampak besar, yaitu mengurangi penggunaan kertas,” ujar Rektor.
Sementara itu, Dr. Anggia Erma Rini turut mengapresiasi langkah UIN SATU dalam menerapkan kebijakan ramah lingkungan, khususnya konsep paperless yang dinilai sebagai langkah konkret dalam menjaga ekosistem.
“Saya sangat senang melihat kebijakan paperless di UIN SATU. Ini langkah sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Jika dihitung, penggunaan ratusan lembar kertas berarti menyelamatkan pohon dari penebangan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan efisiensi energi selama ini cenderung berbasis pendekatan teknis dan fiskal, tanpa didukung landasan moral dan spiritual yang kuat. Namun, perubahan perilaku masyarakat tidak cukup hanya melalui regulasi, melainkan membutuhkan kesadaran nilai.
Dr. Anggia turut menjelaskan bahwa pendekatan ekoteologi mampu menjadi fondasi yang lebih kuat dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, karena berangkat dari kesadaran sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab terhadap alam.
Ia juga menyoroti bahwa kebiasaan kecil seperti penggunaan listrik atau konsumsi kertas, jika dilakukan secara masif tanpa kesadaran, dapat berdampak besar terhadap kerusakan lingkungan.
Anggia menambahkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menjadi bagian dari nilai ibadah atau amal jariyah jika dilakukan secara konsisten.
“Menjaga alam bukan sekadar pilihan, tetapi tanggung jawab. Bahkan, jika dilakukan dengan kesadaran, itu bisa menjadi amal jariyah bagi kita semua,” tambahnya.
Kuliah umum ini sekaligus menjadi penanda posisi UIN SATU sebagai institusi pendidikan Islam yang tidak hanya aktif dalam wacana akademik, tetapi juga bergerak nyata dalam menjawab tantangan krisis ekologi global melalui nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Nusantara.
