Oleh: Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I. (Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Ke Madura lewat Surabaya
Singgah di terminal Purabaya
Selamat datang para Guru yang luar biasa
Dari sini wajahnya kelihatan ceria dan bahagia
Melihat binar bahagia di wajah para guru saat acara pengukuhan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) di kampus kita hari ini, hati saya dipenuhi rasa syukur sekaligus haru. Sebagai Rektor, saya menyadari bahwa momen ini bukan sekadar seremoni akademik. Ini adalah sebuah pengakuan negara atas dedikasi Bapak/Ibu sekalian dalam mencerdaskan bangsa.
Kesejahteraan: Buah Syukur dan Amanah
Saya sering menekankan kepada para lulusan tahun 2025 ini untuk tidak pernah melupakan rasa syukur. Dibandingkan masa lalu, perjalanan sertifikasi saat ini jauh lebih dimudahkan. Melalui kebijakan Pemerintah dan Kementerian Agama, Bapak/Ibu mencatat sejarah sebagai angkatan dengan masa studi tersingkat hanya 40 hari namun hak kesejahteraan sesuai amanat UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2025 sudah bisa mulai dirasakan.
Namun, saya ingin kita semua ingat bahwa kemudahan ini adalah amanah yang berakar pada sejarah. Jangan pernah lupakan keberkahan UIN SATU Tulungagung yang lahir dari pertemuan sakral para ulama di Bojonegoro tahun 1966. Semangat juang KH Mahrus Ali Lirboyo hingga KH Arief Mustaqim adalah napas yang harus Bapak/Ibu bawa ke dalam ruang-ruang kelas.
Transformasi kita dari IAIN cabang Surabaya hingga menjadi universitas mandiri pada 2021 harus menjadi energi bagi alumni untuk terus menebar nilai keulamaan.
Reformasi Layanan: Jalan Tol Pendidikan
Saya sangat memahami bahwa tuntutan kualitas SDM guru ke depan akan semakin tinggi. Itulah mengapa kami di UIN SATU berkomitmen melakukan reformasi layanan akademik melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Saya ingin memberikan “jalan tol” bagi Bapak/Ibu untuk terus meningkatkan kualifikasi; jenjang S2 kini bisa ditempuh dalam satu tahun, dan S1 cukup 1,5 tahun.
Bahkan, kami tengah merancang program Fast Track dan Fast Track Mix bekerja sama dengan institusi dunia seperti Al-Azhar. Harapan saya jelas: lulusan kita harus mampu meraih gelar ganda (double degree) dalam waktu 5 tahun untuk jenjang S1 sekaligus S2. Guru-guru kita harus memiliki wawasan global tanpa kehilangan kedalaman spiritualitas.
Guru sebagai Penjaga Mental Generasi
Di balik kesejahteraan yang meningkat, ada tanggung jawab moral yang berat. Saya harus mengingatkan bahwa integritas adalah harga mati. Sertifikat profesi bukanlah jaminan jika kode etik dilanggar. Namun, poin yang paling mengetuk hati saya hari ini adalah tantangan kesehatan mental siswa kita.
Data menunjukkan bahwa mayoritas penderita gangguan mental berat saat ini berasal dari Gen Z dan Gen Alpha—generasi yang Bapak/Ibu hadapi setiap hari. Di tengah gempuran media sosial dan ancaman bullying, tugas guru bukan lagi sekadar mentransfer ilmu, melainkan menjadi “penyelamat” mental murid.
Jadilah fasilitator yang peka. Jadilah role model yang merawat diri dengan rapi, karena itu adalah investasi sosial Anda. Tapi yang terpenting, bangunlah empati dan hubungan batin (chemistry). Jangan sampai kehadiran kita di kelas hanya sebagai mesin pengajar yang tidak menyisakan jejak di hati siswa. Guru yang hebat adalah guru yang tetap dirindukan keberadaannya, bahkan ketika ia sudah tidak lagi menjabat.
Selamat mengabdi, para lulusan PPG UIN SATU Tulungagung. Teruslah berinovasi, jagalah integritas, dan jangan pernah lupakan almamater yang selalu bangga atas langkah mulia Bapak/Ibu sekalian.
Sebagai penutup, saya buat pantun lagi:
PPG Program Profesi
Diadakan oleh Kementerian Agama RI
Agar para guru semakin berkompetensi
Jangan lupa kuliah lagi
(Disampaikan dalam acara Pengukuhan Guru Profesional Mahasiswa PPG Batch 2 dan Batch 3 Tahun 2025 UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Kamis, 30 April 2026)
