Direktur PTKI Kemenag Tekanan PTKIN Harus Perkuat Integrasi Keilmuan dan Inovasi untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

Kontributor:

IMG 2653 1

Tulungagung — Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Sahiron, M.A., menegaskan pentingnya penguatan integrasi keilmuan, inovasi akademik, serta pengembangan sumber daya manusia sebagai langkah strategis dalam memperkuat daya saing Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di tingkat nasional maupun global.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Evaluasi Pendaftaran UM-PTKIN 2026 yang digelar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU Tulungagung), Minggu (7/6/2026), dan dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Forum Rektor PTKIN, serta para pimpinan PTKIN dari seluruh Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Sahiron menyampaikan apresiasi kepada Panitia Nasional SPAN-PTKIN dan UM-PTKIN 2026 atas capaian peningkatan jumlah pendaftar yang kembali menunjukkan tren positif. Menurutnya, peningkatan jumlah pendaftar selama dua tahun terakhir menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap PTKIN sebagai destinasi pendidikan tinggi yang unggul dan relevan dengan kebutuhan zaman.

“Target pendaftar UM-PTKIN tahun ini berhasil terlampaui. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap PTKIN terus meningkat. Tentu capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh panitia nasional, para rektor, ketua, dan seluruh sivitas akademika PTKIN,” ujarnya.

Selain capaian penerimaan mahasiswa baru, Prof. Sahiron juga menyoroti perkembangan PTKIN dalam bidang akademik. Ia mengungkapkan bahwa dari 59 PTKIN di Indonesia, sebanyak 39 perguruan tinggi telah meraih akreditasi unggul. Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti komitmen PTKIN dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi keagamaan Islam.

“Ini merupakan prestasi yang patut disyukuri. Namun kita tidak boleh berhenti. PTKIN yang saat ini masih berstatus Baik Sekali harus terus didorong agar mampu meraih predikat unggul,” ujarnya.

Di bidang publikasi ilmiah, Ia menilai PTKIN juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berbagai karya ilmiah dosen PTKIN semakin banyak dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi dan mendapat pengakuan dari komunitas akademik global.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan jumlah publikasi, melainkan juga memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi mandat utama perguruan tinggi.

Menurutnya, salah satu strategi penting yang harus terus dikembangkan PTKIN adalah integrasi keilmuan, yakni menghubungkan studi keislaman dengan berbagai disiplin ilmu modern, termasuk sains, teknologi, kesehatan, kecerdasan buatan, dan robotika.

Sahiron menjelaskan bahwa Direktorat PTKI saat ini tengah mendorong penguatan integrasi keilmuan pada fakultas-fakultas kedokteran yang dimiliki PTKIN. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari ilmu kedokteran modern, tetapi juga diperkenalkan pada khazanah keilmuan Islam klasik yang pernah menjadi rujukan dunia.

“Kita ingin mahasiswa kedokteran di PTKIN mengenal pemikiran para ilmuwan muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, maupun tokoh-tokoh lainnya yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu kesehatan. Ini yang kami sebut sebagai integrasi substantif,” jelasnya.

Lebih jauh, Prof. Sahiron mengungkapkan bahwa Direktorat PTKI juga mulai menjajaki kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan robotika berbasis studi keislaman. Gagasan tersebut diarahkan untuk menghadirkan inovasi teknologi yang mampu mengintegrasikan khazanah keilmuan Islam dengan perkembangan teknologi masa depan.

“Ke depan kita ingin studi Islam tidak hanya hadir dalam bentuk buku atau ruang kelas, tetapi juga terintegrasi dengan teknologi modern. Ini menjadi salah satu upaya agar keilmuan Islam tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman,” ungkapnya.

Selain pengembangan keilmuan, Prof. Sahiron juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia PTKIN. Ia menyebut Direktorat PTKI saat ini tengah menjalankan berbagai program strategis untuk mendukung pengembangan kapasitas dosen, di antaranya program Visiting Professor dan Program Persiapan Bahasa Asing dan Akademik (PPBA).

Program Visiting Professor memberikan kesempatan kepada profesor PTKIN untuk mengajar di perguruan tinggi luar negeri sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional. Sementara PPBA dirancang untuk mempersiapkan dosen melanjutkan studi doktoral di berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia.

“Kita ingin dosen-dosen PTKIN memiliki pengalaman global, memperluas jejaring internasional, sekaligus meningkatkan kapasitas akademiknya sehingga mampu berkontribusi lebih besar bagi pengembangan institusi,” katanya.

Tidak hanya dosen, Direktorat PTKI juga terus mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa melalui berbagai program, salah satunya Magang Kementerian Agama. Pada tahun 2025, program tersebut berhasil melibatkan ratusan mahasiswa PTKIN di berbagai perusahaan dan lembaga mitra, dengan sebagian di antaranya langsung memperoleh kesempatan kerja setelah menyelesaikan magang.

“Mahasiswa harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, program magang akan terus diperluas agar semakin banyak mahasiswa memperoleh pengalaman profesional sebelum lulus,” ujarnya.

Menutup arahannya, Sahiron mengajak seluruh pimpinan PTKIN untuk terus melahirkan berbagai inovasi kelembagaan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam dan masyarakat luas.

Menurutnya, PTKIN harus berani menghadirkan terobosan-terobosan baru yang tidak hanya memperkuat reputasi institusi, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi bangsa dan negara.

Editor: Ulil Abshor
Photographer: M. Anwar Aziz
Skip to content