Ringkasan Berita:
– UPT Bahasa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menggelar Workshop bertema “Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris: Sukses TKA untuk SMA/Sederajat”, diikuti 50 guru dari 35 lembaga pendidikan se-Kabupaten Tulungagung.
– Kegiatan diikuti 50 guru dari 35 lembaga pendidikan yang terdiri atas SMK, SMA, dan MA/MAN se-Kabupaten Tulungagung.
– Rektor UIN SATU, Prof. Dr. H. Abdul Aziz, M.Pd., menekankan pentingnya sinergi sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris siswa jelang Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
– Workshop menghadirkan narasumber yang membahas kesiapan membaca dan penguatan reading resilience, sekaligus menyoroti rata-rata nasional Bahasa Inggris pada TKA yang masih berada di kisaran 25 dari skala 100.
Tulungagung — UPT Bahasa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menggelar Workshop bagi Guru Bahasa Inggris SMA/Sederajat se-Kabupaten Tulungagung, Rabu (2/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Multimedia Gedung Saifudin Zuhri tersebut menjadi forum penguatan kompetensi guru sekaligus ruang berbagi pengalaman dalam mempersiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
Workshop ini diikuti oleh 50 guru dari 35 lembaga pendidikan se-Kabupaten Tulungagung, yang terdiri atas SMK, SMA, serta MA/MAN. Selain menjadi ajang peningkatan kompetensi, acara ini juga menjadi wujud kontribusi kampus kepada dunia pendidikan menengah di daerah.
TKA Bukan Sekadar Latihan Mengerjakan Soal
Dalam sambutan pembuka, Kepala UPT Bahasa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Emmi Naja, Ph.D., menegaskan bahwa persiapan TKA tidak dapat dimaknai sebatas melatih siswa mengerjakan soal. Lebih dari itu, TKA berkaitan dengan upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Hal tersebut menjadi perhatian karena capaian Bahasa Inggris dalam hasil TKA masih menunjukkan tantangan. Dalam sambutan disampaikan bahwa nilai rata-rata nasional Bahasa Inggris untuk jenjang SMA berada di kisaran 25 dari skala 100, sementara Bahasa Indonesia sekitar 57 dan Matematika sekitar 37.
“TKA ini tidak hanya tentang bagaimana kita men-training siswa kita untuk mengerjakan soal, tidak sesimpel itu. Tetapi beyond that, di belakang itu ada misi tersendiri,” ujarnya.
Karena itu, workshop tidak hanya diarahkan sebagai forum peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran, tetapi juga sebagai sharing session untuk menggali pengalaman dan kendala guru dalam mempersiapkan siswa menghadapi TKA.
Rektor UIN SATU Dorong Sinergi Lintas Jenjang Pendidikan
Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. H. Abdul Aziz, M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi dalam meningkatkan kemampuan peserta didik.
Menurutnya, persoalan rendahnya capaian TKA, khususnya Bahasa Inggris, tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Diperlukan sinergi antarlembaga untuk memahami persoalan sekaligus mencari strategi pembelajaran yang sesuai.
“Kita tidak boleh egois bahwa ini urusan kamu, ini urusan kita. Menurut saya kalau sudah masuk pada sebuah jalur kelembagaan, ini bisa bersinergi dengan baik,” tuturnya.
Prof. Dr. H. Abdul Aziz, M.Pd. juga mengingatkan bahwa kemampuan bahasa peserta didik dipengaruhi oleh lingkungan (milieu) dan stimulus yang diterima. Karena itu, guru perlu memahami kondisi psikologis, latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan, serta karakteristik peserta didik.
“Jadi tidak hanya problem bagaimana kita menyampaikan, tapi bagaimana kita ini juga memahami terhadap psikologi mereka,” lanjutnya.
Guru Perlu Memahami Perbedaan Karakteristik Siswa
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Qurrota A’yunina, S.Pd.I., M.Pd. dengan materi “Are Our Students Ready to Read?”. Materi tersebut mengangkat gagasan “One TKA, Different Classrooms”, yang menekankan bahwa siswa menghadapi tujuan TKA yang sama, tetapi memiliki titik awal dan karakteristik pembelajaran yang berbeda.
Pada jenjang SMK, pembelajaran memiliki orientasi vokasional dan kebutuhan terhadap teks fungsional serta konteks dunia kerja. Sementara itu, SMA memiliki orientasi akademik yang membutuhkan kedalaman pemahaman. Adapun MA memadukan orientasi akademik dan keagamaan sehingga membutuhkan keluasan serta kedalaman literasi dalam konteks yang beragam.
Dari perbedaan tersebut, terdapat satu kebutuhan bersama, yakni penguatan literasi Bahasa Inggris.
Membangun Reading Resilience untuk TKA 2026
Narasumber berikutnya, Prof. Dr. Erna Iftanti, S.S., M.Pd., menyampaikan materi “Building Reading Resilience: Preparing Students for TKA 2026 and Beyond”.
Materi tersebut menekankan pentingnya membangun reading resilience atau ketahanan membaca sebagai bagian dari persiapan siswa menghadapi tantangan TKA 2026 dan pembelajaran pada masa mendatang.
Dalam materi workshop juga dipaparkan sejumlah informasi mengenai TKA 2026, termasuk jadwal pelaksanaan pada 26 Oktober–8 November 2026, integrasi pelaksanaan TKA dengan Asesmen Nasional (AN), serta fungsi TKA SMA/sederajat sebagai salah satu penentu kelulusan SNBP 2027 dan salah satu instrumen dalam seleksi kerja.
Diikuti 50 Guru dari 35 Lembaga Pendidikan
Komposisi peserta menunjukkan keterlibatan lintas jenjang pendidikan. Sebanyak 20 guru atau 40 persen berasal dari SMK/sederajat yang mewakili 16 sekolah. Sebanyak 13 guru atau 26 persen berasal dari SMA/sederajat yang mewakili delapan sekolah. Sementara itu, 17 guru atau 34 persen berasal dari MA/MAN sederajat yang mewakili 11 madrasah.
Keterlibatan sekolah dan madrasah tersebut menunjukkan adanya sinergi lintas jenjang dalam mempersiapkan siswa menghadapi TKA. Kegiatan juga diikuti guru dengan latar belakang akademik doktoral, salah satunya Dr. Eti Rohmawati, S.Pd., M.Pd.I. dari MAN 2 Tulungagung.
UPT Bahasa Siapkan Tindak Lanjut
Workshop tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Dalam sambutan pembuka, Kepala UPT Bahasa UIN SATU Tulungagung, Emmi Naja, Ph.D., menyampaikan rencana untuk mengembangkan kegiatan lanjutan, termasuk kemungkinan sharing dan penyusunan bank soal TKA yang dapat dimanfaatkan bersama sebagai bahan latihan.
Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung juga menegaskan keterbukaan UIN SATU untuk membangun kolaborasi dengan sekolah dan madrasah. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi ikhtiar bersama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan pendidikan di masa mendatang.
Melalui workshop ini, UIN SATU Tulungagung tidak hanya mendorong peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi pendidikan antara perguruan tinggi, sekolah, dan madrasah dalam membangun kemampuan literasi serta kesiapan siswa menghadapi TKA 2026.
