Dukung Asta Cita, UIN SATU Apresiasi Capaian Dua Tahun Kinerja Kemenag untuk Umat

Kontributor:

2 tahun asta cita 02
Ringkasan Berita:

• Kementerian Agama RI memaparkan capaian dua tahun Asta Cita dalam konferensi pers hibrid pada Senin (19/10/2026), yang diikuti jajaran pimpinan pusat, pimpinan PTKN, dan para Kepala Kanwil Kemenag se-Indonesia.

• Capaian tersebut mencakup program ekoteologi, penghimpunan dana filantropi dan wakaf, bantuan pendidikan, kesejahteraan pendidik, revitalisasi madrasah, hingga penanganan kekerasan seksual di lembaga pendidikan keagamaan.

• Kepala Bakom RI mengapresiasi tiga capaian Kemenag: agama sebagai pemersatu bangsa, alat pembebasan dari budaya korupsi, dan penguat kualitas sumber daya manusia.

• Rektor UIN SATU menyatakan dukungan dan menegaskan bahwa kampus siap menyelaraskan tridarma perguruan tinggi dengan program prioritas Kemenag.

Tulungagung – Apa saja yang telah dihadirkan Kementerian Agama (Kemenag) bagi umat dalam dua tahun pelaksanaan Asta Cita? Pertanyaan itu dijawab dalam Konferensi Pers bertajuk “2 Tahun Asta Cita Kinerja Kemenag, Manfaat untuk Umat” pada Senin (19/10/2026).

Kegiatan yang digelar secara hibrid dari Jakarta tersebut diikuti jajaran pimpinan Kemenag pusat, pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), serta Kepala Kanwil Kemenag dari seluruh Indonesia. Forum ini menjadi ruang untuk memaparkan program prioritas dan capaian strategis Kemenag secara menyeluruh, transparan, dan akuntabel, sekaligus bukti bahwa program tersebut berdampak langsung bagi masyarakat dalam mendukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI.

Ekoteologi: Menumbuhkan Kesadaran Ekologis lewat Bahasa Agama

Dalam paparannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Kemenag tengah menggalakkan program ekoteologi. Program ini menumbuhkan kesadaran ekologis masyarakat melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan.

“Kita sudah menerapkan suatu isu yang sangat baru di Kementerian Agama, yaitu ekoteologi. Kesadaran masyarakat untuk memelihara lingkungan itu sangat besar jika disadarkan melalui bahasa agama. Dalam Islam misalnya, sebelum menyembelih hewan harus membaca basmalah. Bahasa agama ini sangat penting,” ujar Menteri Agama.

Filantropi, Wakaf, dan Bantuan Pendidikan

Selama dua tahun terakhir, Kemenag mencatat peningkatan signifikan pada tata kelola dana sosial keagamaan dan sektor pendidikan.

  • Filantropi keagamaan: Zakat nasional terkumpul Rp44,6 triliun. Dana filantropi umat Kristen mencapai Rp6,16 miliar, umat Buddha Rp11 miliar, dan umat Hindu Rp3,17 miliar.
  • Wakaf dan ekonomi umat: Wakaf uang terkumpul Rp4,7 triliun, sedangkan aset tanah wakaf tumbuh hingga 467.237 titik. Kemenag juga mengelola 287 titik KUA berbasis ekonomi dan 25 titik Kota Wakaf.
  • Bantuan pendidikan: Program Indonesia Pintar (PIP) tersalurkan Rp4,038 triliun dan KIP Kuliah Rp3,303 triliun.
  • Beasiswa dan kesejahteraan pendidik: Sebanyak 3.659 mahasiswa menerima beasiswa senilai Rp1,3 triliun. Anggaran kesejahteraan sebesar Rp19 triliun dialokasikan bagi 452.790 guru dan dosen, serta Rp25 triliun bagi guru madrasah dan pendidikan agama lintas umat.
  • Revitalisasi madrasah: Sebanyak 857 madrasah menerima Bantuan PHTC senilai Rp214 miliar, dan 80 madrasah memperoleh revitalisasi sarana dan prasarana senilai Rp169 miliar.

Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat

Kemenag juga menyusun materi khutbah seragam yang berfokus pada pelestarian alam, pencegahan korupsi, dan penguatan solidaritas sosial. Menteri Agama turut menyoroti peran masjid yang berfungsi sebagai posko pelayanan mudik dan pusat penanganan bencana.

“Masjid itu bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat untuk menyelamatkan dan memberdayakan masyarakat. Lebih dari 6.000 masjid di seluruh Indonesia menjadi posko mudik dan sangat membantu menciptakan kohesi sosial serta menekan angka kecelakaan,” tegasnya.

Kerukunan, Pesantren, dan Layanan Wilayah 3T

Agar dampak program keagamaan terasa merata, Kemenag menetapkan sejumlah prioritas strategis berikut.

  1. Kerukunan dan cinta kemanusiaan. Kualitas kerukunan umat beragama ditingkatkan melalui insersi kurikulum berbasis cinta kemanusiaan di lembaga pendidikan, serta optimalisasi peran KUA dalam mendeteksi dini potensi konflik berdimensi keagamaan.
  2. Kemandirian pesantren. Program inkubasi bisnis pesantren dipercepat untuk mendorong kemandirian ekonomi, disertai penyiapan standar mutu dan rekognisi global bagi lulusan pesantren.
  3. Layanan keagamaan inklusif di wilayah 3T. Akses layanan keagamaan diperluas ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, termasuk penyediaan kitab suci dan bahan bacaan keagamaan yang ramah difabel.
  4. Digitalisasi tata kelola. Sistem basis data layanan Kemenag diintegrasikan secara menyeluruh agar kebijakan publik berjalan transparan, cepat, dan tepat sasaran.

Komitmen Menghadirkan Ruang Belajar yang Aman

Menanggapi isu kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan, Kemenag menegaskan komitmen tanpa kompromi untuk menghadirkan ruang belajar yang aman bagi peserta didik. Wakil Menteri Agama, Romo H. R. Muhammad Syafi’i, menyampaikan bahwa sanksi berat, termasuk pencabutan izin operasional, telah dijatuhkan kepada lembaga yang melanggar.

“Tindakan tegas yang terjadi di Bekasi menjadi contoh bahwa kita sudah menerapkan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) untuk memberikan sanksi tegas terhadap pelaku dan lembaga. Pelaku tidak pernah dibolehkan lagi bekerja sebagai pengasuh atau guru, dan tes psikologi juga telah diberlakukan pada tahun ajaran ini,” jelasnya.

Kemenag juga memastikan perlindungan dan keberlangsungan pendidikan santri, antara lain dengan memfasilitasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi sekolah atau madrasah di daerah terdampak bencana lingkungan, seperti kabut asap di Kalimantan.

Apresiasi Bakom: Agama sebagai Perekat, Pembebas, dan Penguat SDM

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan. Ia mencatat tiga hal yang menurutnya menonjol dari kinerja Kemenag dalam dua tahun Asta Cita.

“Dari Bakom, kami sangat mengapresiasi tiga hal yang saya catat tadi. Pertama, Bapak Menteri Agama dan jajarannya telah berhasil meningkatkan agama sebagai alat persatuan nasional,” ujar Syahganda.

Menurutnya, paparan Menteri Agama beserta jajaran menunjukkan kontribusi nyata agama dalam memperkuat kehidupan berbangsa. Capaian kedua adalah upaya menjadikan agama kekuatan untuk membebaskan masyarakat dari budaya korupsi. Nilai-nilai agama dinilai mampu membangun kesadaran untuk hidup bersih dan menjaga integritas.

“Yang kedua, telah berhasil menjadikan agama sebagai alat pembebasan dari budaya korupsi,” ungkapnya.

“Saya lihat tadi bagaimana agama itu bisa meyakinkan orang-orang untuk menjadi orang yang bersih dari korupsi,” tuturnya.

Adapun capaian ketiga adalah peran Kemenag dalam pembangunan kualitas manusia, antara lain melalui pembelajaran jarak jauh dan beasiswa.

“Yang ketiga, agama itu ikut berperan serta dalam memajukan pembangunan manusia dan sumber daya manusia, seperti pembelajaran jarak jauh, beasiswa, dan lain-lain,” ujarnya.

Rektor UIN SATU: Capaian Kemenag Menjadi Energi bagi Perguruan Tinggi

Capaian Kemenag tersebut mendapat tanggapan positif dari Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I. Ia menilai program-program yang dipaparkan merupakan wujud kehadiran negara dalam melayani umat, dan perguruan tinggi keagamaan memiliki peran strategis untuk ikut menyukseskannya.

“Alhamdulillah, kami di UIN SATU Tulungagung mengapresiasi dan mendukung penuh capaian dua tahun kinerja Kementerian Agama. Program-program yang dipaparkan Bapak Menteri Agama bukan sekadar angka, tetapi menyentuh langsung kehidupan umat, mulai dari penguatan ekoteologi, bantuan pendidikan, beasiswa, hingga perlindungan peserta didik. Sebagai bagian dari keluarga besar Kementerian Agama, kami berkomitmen menyelaraskan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan program prioritas tersebut,” ujar Prof. Abd. Aziz.

Ia menambahkan bahwa gagasan ekoteologi yang digalakkan Kemenag sejalan dengan arah pengembangan kampus, termasuk melalui gerakan ReliGreen yang menghubungkan kepedulian lingkungan dengan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, agama harus hadir sebagai sumber kesadaran dan penggerak perubahan.

“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab kita sebagai khalifah fil ardhi. Nilai ini terus kami tanamkan di UIN SATU agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya yang hidup di tengah sivitas akademika dan masyarakat,” tuturnya.

Rektor juga menyoroti komitmen Kemenag dalam membangun sumber daya manusia unggul dan menghadirkan ruang belajar yang aman. Menurutnya, UIN SATU akan terus memperkuat integritas, inklusivitas, dan kemitraan, sebagaimana prinsip SIP (Sustainable, Inclusive, Partnership) yang dikembangkan kampus.

“Kami berharap UIN SATU dapat terus berkontribusi, baik melalui lulusan yang berkarakter dan berintegritas, riset yang bermanfaat, maupun pengabdian yang menjawab kebutuhan masyarakat. Semoga seluruh ikhtiar Kementerian Agama membawa manfaat seluas-luasnya bagi umat dan bangsa,” pungkasnya.

Di akhir acara, Menteri Agama menyampaikan apresiasi kepada media dan seluruh jajaran Kemenag. Ia menegaskan komitmen untuk terus mengawal transisi kelembagaan secara harmonis serta memastikan seluruh pelayanan dan pendidikan keagamaan memberi manfaat seluas-luasnya bagi seluruh umat beragama di Indonesia.

Editor: Muhlasin
Photographer: Istimewa
Skip to content
Menerjemahkan halaman... Mohon tunggu beberapa saat.