Ringkasan Berita:
– Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., hadir di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam Pelatihan Orientasi Penggerak Ekoteologi, Rabu (4/11/2026)
– Pelatihan berlangsung pada 4–10 November 2026 dan diikuti 60 peserta dari delapan provinsi.
– Rektor UIN SATU, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I., memperkenalkan program ReliGreen yang memadukan kurikulum dan kampus hijau sebagai bagian dari ekoteologi.
– Prof. Ali Ramdhani menilai ReliGreen dan kampus hijau sebagai bentuk diferensiasi di tengah persaingan antarkampus di Jawa Timur.
– Kebijakan Kemenag disusun sebagai titik temu idealisme dan realitas melalui pendekatan bottom-up dan top-down.
Tulungagung – Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., hadir di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam acara Pelatihan Orientasi Penggerak Ekoteologi, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan program prioritas Kementerian Agama bagi keluarga besar Kemenag.
Acara tersebut dihadiri Rektor UIN SATU, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I.; Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, Dr. H. Muchammad Toha, M.Si.; Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I.; dan Kepala Pusat Pengembangan Ekoteologi, Moderasi Beragama, dan Kepesantrenan LP2M, Dr. Syamsul Umam, S.H.I., M.H. Hadir pula para fasilitator dan peserta pelatihan.
Pelatihan Tujuh Hari, Peserta dari Delapan Provinsi
Pelatihan yang berlangsung pada 4–10 November 2026 di PTP UIN SATU Tulungagung ini diikuti 60 peserta, terdiri atas 31 dosen, 22 guru, dan tujuh ASN Kementerian Agama. Berdasarkan data pendaftaran, peserta berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Banten, dan Sumatera Barat.
Selama pelatihan, peserta memperoleh penguatan materi tentang arah kebijakan dan pengembangan ekoteologi Kementerian Agama, urgensi ekoteologi dalam kehidupan beragama di Indonesia, serta kesadaran ekologis. Materi lainnya mencakup fondasi teologis dan tanggung jawab etis ekologis yang meliputi relasi Tuhan, manusia, alam, dan kearifan lokal, hingga strategi kolaborasi dan integrasi ekoteologi ke dalam sistem pembelajaran di perguruan tinggi. Materi pertama pada acara pembukaan disampaikan oleh Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kemenag RI, Dr. Ruchman Basori, M.Ag., dengan tema “Strategi Pengarusutamaan Gerakan Ekoteologi di Kementerian Agama Melalui Sistem Pembiayaan LPDP”.
ReliGreen, Kampus Hijau UIN SATU
Dalam sambutannya, Rektor Prof. Abd. Aziz memperkenalkan program ReliGreen yang dijalankan UIN SATU. Menurutnya, program ini memang tidak menggunakan nama ekoteologi, tetapi menjadi bagian darinya.
“ReliGreen itu kontennya bagaimana kita menyatukan kurikulum dan membuat kampus kita ini hijau,” ujarnya.
Rektor juga menyampaikan bahwa UIN SATU meraih penghargaan internasional di bidang keberlanjutan dari AASHE STARS. Selain itu, pengembangan kampus sebagai Badan Layanan Umum (BLU) terus berjalan, termasuk perbaikan fasilitas. Ia menambahkan bahwa sebagian arahan Prof. Ali Ramdhani sejak awal masa kepemimpinannya telah dijalankan.
Dalam pengarahan pada pembukaan kegiatan, Rektor turut menekankan pentingnya menjaga dan merawat fasilitas yang tersedia sebagai amanah agar dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga ruang terbuka hijau dan merawat pepohonan di lingkungan kampus. Perguruan tinggi pun diharapkan tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Berbeda Cara, Cari Ruang Kosong
Prof. Ali Ramdhani mengapresiasi langkah UIN SATU yang memilih jalur berbeda di tengah persaingan perguruan tinggi di Jawa Timur. Ia menyebut UIN SATU berada di antara kampus-kampus besar seperti UINSA Surabaya dan UIN Maliki Malang.
Ia menyarankan agar kampus berupaya menjadi yang terbaik. Jika belum bisa, kampus perlu melakukannya dengan cara yang berbeda. Menurutnya, ReliGreen dan kampus hijau merupakan bentuk diferensiasi tersebut. Rektor dinilai berhasil mengisi lakuna, yakni ruang kosong di medan yang sudah ramai pesaing, dengan mengambil posisi baru. Atas capaian itu, ia menyebut UIN SATU sebagai satu-satunya PTKIN yang memperoleh apresiasi dari UI GreenMetric.
Kebijakan Kemenag: Perpaduan Idealisme dan Realitas
Terkait arah kebijakan, Prof. Ali Ramdhani menjelaskan bahwa program Kemenag disusun sebagai titik temu antara idealisme dan realitas. Prosesnya dimulai dari environmental scanning atas struktur, kultur, dan sumber daya, kemudian dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan para pemangku kepentingan.
Perumusan program memadukan pendekatan bottom-up, yakni menjawab persoalan keumatan, dengan top-down, yakni menopang Asta Cita pemerintah. Setiap program kemudian dievaluasi pada tiga tahap: ex-ante (perencanaan), ongoing (berjalan), dan ex-post (setelah kegiatan). Ia juga menegaskan tiga kata kunci Kemenag, yaitu ikhlas, amal, dan berdampak. Perencanaan anggaran, menurutnya, tidak boleh berhenti pada input seperti SDM, material, mesin, metode, dan dana, tetapi harus menghasilkan dampak yang dirasakan masyarakat.
Mendorong Lahirnya Penggerak Ekoteologi
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan wawasan, tetapi juga mampu mengembangkan gagasan serta praktik pelestarian lingkungan di lingkungan kerja maupun masyarakat. Keberagaman latar belakang peserta menjadi modal untuk memperluas jejaring dan membangun kolaborasi, sehingga ekoteologi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi terwujud dalam gerakan nyata yang berkelanjutan.
