Ringkasan Berita
- Lomba Lalaran Santri menjadi salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri Nasional 2026 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
- Sebanyak tiga tim berkompetisi menampilkan hafalan nazam Imrithi dan Alfiyah dengan kreativitas lantunan dan iringan musik.
- Tim Al-Fulkhair dari Madin kelas Ulya 2 meraih juara pertama dengan skor 252, disusul Tim Laskar Kalkulus dan Tim An-Najah.
Tulungagung — Lomba Lalaran Santri menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (19/10/2026) di panggung utama tersebut diikuti tiga tim yang menampilkan hafalan nazam Imrithi dan Alfiyah melalui lantunan khas pesantren yang dipadukan dengan kreativitas musikal.
Lomba ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan santri untuk menunjukkan kemampuan melafalkan nazam secara tepat dan lancar, sekaligus mengembangkan kreativitas dalam menyajikan hafalan. Setiap tim berupaya menampilkan ciri khas masing-masing melalui pilihan nada, kekompakan, dan iringan musik.
Dewan Juri Tekankan Ketepatan Lafal dan Kelancaran Hafalan
Penampilan peserta dinilai oleh tiga dewan juri, yaitu Ustaz Muallam, Ustaz Zainul Arifin, dan Ustaz Arief Mustaqiem. Dalam evaluasi setelah perlombaan, para juri memberikan apresiasi terhadap kreativitas peserta sekaligus sejumlah catatan untuk perbaikan.
Ustaz Muallam mengapresiasi kreativitas peserta dalam memadukan lantunan dengan gaya vokal sinden dan iringan musik. Namun, ia juga menyoroti kelancaran lantunan yang belum merata pada beberapa bagian penampilan.
Sementara itu, Ustaz Zainul Arifin menilai secara umum peserta telah menunjukkan penampilan yang baik. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga energi saat tampil, menyelaraskan lantunan antarpeserta, serta memastikan seluruh anggota tim memiliki kesiapan yang seimbang. Penggunaan teks ketika sebagian anggota menghafal juga menjadi salah satu catatan dalam penilaian.
Ia turut menekankan agar peserta memanfaatkan waktu yang telah ditentukan secara optimal dan menaati ketentuan panitia. Kreativitas nada dan musik dinilai dapat menjadi nilai tambah selama tetap mendukung tujuan utama perlombaan.
Senada dengan itu, Ustaz Arief Mustaqiem menjelaskan bahwa esensi lalaran terletak pada ketepatan pelafalan dan kelancaran hafalan. Menurutnya, alat musik berfungsi sebagai pendukung penampilan, bukan unsur utama yang menggeser fokus dari kualitas hafalan.
Ia juga mendorong peserta generasi muda untuk berani mengeksplorasi aransemen lagu yang lebih kekinian agar penampilan lalaran terasa lebih dekat dengan selera generasi sekarang, tanpa meninggalkan ketepatan dan kelancaran dalam melafalkan nazam.
Tim Al-Fulkhair Raih Juara Pertama
Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, berikut perolehan juara Lomba Lalaran Santri Hari Santri Nasional 2026 di UIN SATU Tulungagung:
- Juara I: Tim Al-Fulkhair, perwakilan Madin kelas Ulya 2, dengan skor 252.
- Juara II: Tim Laskar Kalkulus, Program Studi Tadris Matematika, dengan skor 243.
- Juara III: Tim An-Najah, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), dengan skor 239.
Setelah seluruh penampilan dan evaluasi selesai, peserta turut menyampaikan kesan mereka. Sejumlah peserta mengaku merasa lega sekaligus gugup setelah menyelesaikan penampilan di hadapan dewan juri.
Panitia menyampaikan bahwa rincian nilai akan dibagikan secara transparan melalui grup peserta. Penyerahan hadiah bagi para pemenang dijadwalkan berlangsung pada puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Melalui Lomba Lalaran Santri, peringatan Hari Santri Nasional di UIN SATU tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk merawat tradisi keilmuan pesantren. Kreativitas dalam penyajian diharapkan dapat berjalan beriringan dengan ketepatan hafalan, sehingga tradisi lalaran tetap terjaga sekaligus mampu berkembang di kalangan generasi muda
