Ringkasan Berita:
• UIN SATU Tulungagung menggelar Seminar dan Coaching Clinic “Manuskrip Selingkar Wilis: Jejak Santri, Warisan Peradaban” dalam rangka Hari Santri 2026 pada Selasa (20/10/2026) di Aula Gedung Rektorat Lt. 3.
• Kegiatan diikuti mahasiswa dan sivitas akademika. Peserta dapat melihat langsung manuskrip kuno yang dihadirkan dalam kegiatan.
• Empat narasumber mengupas isi manuskrip masa lampau, mulai dari sisi kajian keilmuan hingga peran santri dalam menjaga naskah.
• Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Prof. Dr. H. Syamsun Ni’am, M.Ag., membuka kegiatan mewakili Rektor dan mengajak mahasiswa menjadikan manuskrip sebagai kekhasan akademik.
• Mencontohkan dua manuskrip Pegon karya KH. Hasyim Asy’ari, Ad-Durar al-Muntatsirah fi Masa’il Tis’a ‘Asyarah dan Tamyizul Haqq minal Bathil, yang pernah ia teliti dan tulis menjadi buku.
Tulungagung – Manuskrip bukan sekadar tulisan kuno, melainkan jejak pemikiran para ulama yang masih relevan untuk dikaji hari ini. Pesan itu mengemuka dalam Seminar dan Coaching Clinic “Manuskrip Selingkar Wilis: Jejak Santri, Warisan Peradaban” yang digelar UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung pada Selasa (20/10/2026).
Kegiatan dalam rangka Hari Santri 2026 ini berlangsung di Aula Gedung Rektorat Lt. 3 UIN SATU dan diikuti mahasiswa serta sivitas akademika. Hadir pula para dekan, wakil dekan, ketua unit, dan kepala lembaga. Seminar dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Prof. Dr. H. Syamsun Ni’am, M.Ag., mewakili Rektor, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I.
Peserta Lihat Langsung Manuskrip Kuno
Berbeda dari seminar pada umumnya, kegiatan ini menghadirkan manuskrip kuno secara langsung. Peserta dapat melihat dari dekat wujud naskah tulisan tangan yang selama ini hanya dikenal lewat cerita dan kajian.
Empat Narasumber Kupas Isi Manuskrip
Seminar menghadirkan empat narasumber yang menjelaskan isi manuskrip masa lampau dari sudut pandang masing-masing.
- Ahmad Wahyu Rizkiawan, peneliti manuskrip kuno dari Bojonegoro
- Dr. KH. Bagus Ahmadi, M.Sy., M.Pd.I., Ketua PCNU Kabupaten Tulungagung
- Dr. H. Ahmad Karomi, M.Th.I., Sekretaris Nahdlatut Turats Jawa Timur dari Surabaya
- Adrika Fitrotul Aini, M.Ag., dosen UIN SATU
Kegiatan dipandu moderator Dr. Ahmad Muhdor, Lc., M.Pd.I., dosen UIN SATU.
Naskah Pegon Mbah Hasyim yang Memuat Kritik Tarekat
Dalam sambutannya, Prof. Niam menceritakan pengalamannya meneliti dua manuskrip karya KH. Hasyim Asy’ari yang ditulis dalam bahasa Jawa Pegon.
Manuskrip pertama adalah Ad-Durar al-Muntatsirah fi Masa’il Tis’a ‘Asyarah, ditulis pada 1940. Naskah ini berisi 19 masalah dalam bentuk dialog yang memuat kritik Mbah Hasyim terhadap praktik tarekat. Manuskrip kedua, Tamyizul Haqq minal Bathil, secara khusus mengkritik kultus individu terhadap mursyid.
“Beliau ingin membentengi jangan sampai berlebihan. Tradisi itu bagian dari NU, tetapi jangan dianggap sebagai sesuatu yang wajib,” ujarnya.
Hasil penelitian atas dua manuskrip tersebut ia tuangkan dalam tulisan tentang wasiat tarekat Mbah Hasyim Asy’ari yang diterbitkan Arus Media pada 2011 dan masih dapat ditemukan hingga kini.
Dari Ramalan Sesepuh hingga Naskah yang Pulang dari Belanda
Menurutnya, kekayaan manuskrip Nusantara tidak terbatas pada kajian keagamaan. Ada pula naskah berisi catatan para sesepuh tentang perkiraan gempa dan banjir pada tahun tertentu, yang dijaga secara turun-temurun sebagai bagian dari kekayaan budaya.
Di lingkungan pesantren, banyak ulama dan kiai meninggalkan manuskrip. Sebagian sudah dibukukan, sebagian menjadi milik pribadi, dan sebagian baru tersimpan sebagai koleksi.
Ia juga menyinggung ribuan manuskrip Indonesia yang dibawa ke Belanda pada masa penjajahan dan kini mulai dikembalikan secara bertahap. “Ini merupakan warisan budaya tradisi yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Mahasiswa Diajak Ambil Distingsi Manuskrip
Prof. Syamsun mendorong mahasiswa dari semua program studi, tidak terbatas pada jurusan tertentu, untuk mengambil manuskrip sebagai kekhasan akademik. Untuk itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan ilmu kebahasaan dan filologi agar mampu membaca bahasa-bahasa kuno.
Ia mengingatkan bahwa manuskrip kuno berbeda dengan karya kontemporer yang kini mudah dicari lewat mesin pencari. Ia juga mengajak mahasiswa menengok tulisan para leluhur mereka sendiri.
“Bisa jadi mbah-mbah kita juga menulis hal-hal yang khas pada zamannya. Itu bisa dikaji dan dikontekstualisasikan dengan kepentingan hari ini,” tuturnya.
Ia berharap seminar ini menjadi agenda tahunan setiap Hari Santri. Tahun ini kegiatan mengambil wilayah di sekitar Gunung Wilis, dan tahun depan cakupannya bisa diperluas, misalnya ke kawasan Pantura. Prof. Syamsun juga mengaku telah lama mengenal Kiai Karomi dan Kiai Bagus sejak bersama-sama di Ma’had Aly JDI Ponorogo.
