Tulungagung-Dalam Upaya Mendorong Ketahanan Ekonomi Masyarakat Pesisir, Dosen sekaligus Koorprodi S2 Ekonomi Syariah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungaung, Konsorsium Prodi Ekonomi Syariah (KPS-ES), Asosiasi Prodi Dan Jurusan Ekonomi Syariah Indonesia (APSIESI), IAEI Komisariat UIN SATU, Menyelenggarakan Kegiatan International Community Service: (Pengabdian Kepada Masyarakat Internasional) Pada Selasa, 8 September 2026. Mengusung Tema “Resilience Of Fisherman And Coastal Msmes In Southern East Java”, Kegiatan Ini Berlangsung Di Pantai Sine, Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.
Agenda Pengabdian Ini Diikuti Oleh Para Akademisi Prodi Ekonomi Syariah (Sarjana Dan Magister) Dari Puluhan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Di Seluruh Indonesia.
Kegiatan Yang Dimoderatori Oleh Dr. Nuril Hidayati, M.Ag. (UIN Kediri) Dengan Menghadirkan Sinergi Lintas Sektor, Mulai Dari Akademisi, Pakar Internasional, Dunia Industri, Hingga Pengelola Daya Tarik Wisata Lokal.
Literasi Keuangan Syariah Disampaikan Oleh Binti Nur Asiyah, Sebagai Ketua Umum APSESI Dan Kaprodi S2 ES UINSATU, Yang Dalam Sambutannya Mengulas Pentingnya Pemanfaatan Akad Wadi’ah Bagi Para Nelayan Dan Pelaku UMKM Pesisir mengamankan hasil tangkap ikan. Akad Ini Dinilai Memberikan Rasa Aman Dan Ketenangan Dalam Menyimpan Hasil Pendapatan Laut Maupun Transaksi Usaha.
Dukungan Dunia Industri Dari Pimpinan Bank Syariah Indonesia (BSI) Tulungagung, Bapak Fazli Beserta Tim, Memaparkan Komitmen BSI Dalam Memfasilitasi Kebutuhan Finansial Masyarakat Pesisir. BSI Siap Menghadirkan Layanan Tabungan, Investasi, Hingga Pembiayaan Pendukung Usaha Perdagangan Ikan Dan UMKM Lokal.
Standardisasi Industri Halal, Representasi Dari Koordinator/Ketua Program Studi, Ibu Mira Ustanti (UIMSYA Banyuwangi), Menekankan Krusialnya Sertifikasi Halal Bagi Produk UMKM Pesisir Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Dan Daya Saing Pasar.
Perspektif Blue Economy Secara Internasional, Speaker Internasional, Mr. Asif Iqbal Siddiqui, Phd, MBA, MSS (Director ESG & Sustainability Circular Economics Pte Ltd. Dari Curtin University), Memaparkan Konsep “Blue Economy”. Beliau Menggarisbawahi Pentingnya Menjaga Kelestarian Laut Serta Pengelolaan Sampah Pesisir Guna Mencegah Pencemaran Ekosistem Laut Yang Berdampak Langsung Pada Rantai Pasok Ikan Dan Kesejahteraan Warga.
Sinergi Dan Realita Lapangan Pokdarwis Pantai Sine
Diskusi Berlangsung Interaktif Bersama Mbah Nono Selaku Perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Sine Dan Warga Masyarakat Sekitar. Beliau Menyampaikan Dinamika Realitas Sosial-Ekonomi Di Pantai Sine.
Pertama, Shift Profesi. Sejak Berkembangnya Sektor Pariwisata, Sebagian Nelayan Beralih Profesi Menjadi Pedagang Karena Pendapatan Melaut Yang Kerap Tidak Menentu—Di Mana Operasional Melaut Membutuhkan Biaya Minimal Rp200.000 Per Perjalanan Tanpa Jaminan Hasil Tangkapan.
Kedua, Tantangan Lingkungan, Pihak Pokdarwis Telah Mengoperasikan Sistem Pemilahan Sampah Dan Rutin Mengadakan Aksi Bersih Pantai Bulanan. Namun, Kendala Utama Yang Dihadapi Saat Ini Adalah Akumulasi “Sampah Kiriman” Yang Terbawa Aliran Sungai Niyama Menuju Area Pantai.
Ketiga, Literasi Keuangan Syariah, Yang Disampaikan Bahwa Masyarakat Kalua Nabung Realtasnya Tidak Bisa, Tetapi Kalau Hutang Bisa Bayar. Maka Hal Ini Perlu Edukasi, Dan Pentingnya Gesekan Pengetahuan Antara Akademisi Sehingga Akan Bersambung Agenda PKM Yang Berkelanjutan Di Kemudian Hari.
Melalui Kegiatan PKM Internasional Ini, Diharapkan Tercipta Rumusan Solusi Berkelanjutan Yang Memadukan Literasi Keuangan Syariah, Penguatan Kapasitas UMKM Halal, Serta Tata Kelola Lingkungan Berbasis “Blue Economy” Demi Kesejahteraan Nelayan Dan Pelaku Usaha Pesisir Jawa Selatan.
Diskusi Berkembang Hingga Muncul Sambut Bergayung Diskusi, Mengapa Terjadi Pergeseran Pekerjaan Pada Nelayan, Sehingga Memberi Daya Khawatir Bahwa Keahlian Melaut, Mencari Ikan Akan Menurun.
