Ringkasan Berita:
• UIN SATU Tulungagung menggelar Sarasehan Internasional bertema “Tapak Budaya Panji di Tulungagung” dalam rangkaian Diskursus Islam Jawa Kontemporer I.
• Rektor UIN SATU mendorong penguatan kajian budaya Panji dan pengembangan kekayaan sejarah Tulungagung sebagai wisata edukasi.
• Lydia Kieven dan Dwi Cahyono membahas jejak cerita, relief, serta peninggalan budaya Panji di Jawa Timur, dengan Akhol Firdaus sebagai moderator.
Tulungagung — Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung menggelar Sarasehan Internasional bertema “Tapak Budaya Panji di Tulungagung” dalam rangkaian Diskursus Islam Jawa Kontemporer I, Selasa (29/9/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Gedung Prajna Paramita UIN SATU Tulungagung dengan menghadirkan Lydia Kieven dan Dwi Cahyono sebagai narasumber serta Akhol Firdaus sebagai moderator.
Sarasehan tersebut menjadi ruang akademik untuk menelusuri kembali jejak budaya Panji melalui peninggalan sejarah, relief candi, cerita, serta tradisi yang berkembang di Jawa Timur. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan kajian akademik dengan kekayaan budaya lokal Tulungagung.
Rektor UIN SATU Dorong Penguatan Kajian Budaya Panji
Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kisah Panji memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan kebudayaan Jawa Timur. Cerita Panji, seperti Panji Asmorobangun atau Panji Inukertapati, Dewi Sekartaji, dan Ande-Ande Lumut, tidak hanya memiliki nilai sastra dan hiburan, tetapi juga memuat pengetahuan mengenai kehidupan sosial serta relasi gender.
Menurut Rektor, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki berbagai nilai yang dapat dikaji dan dikembangkan dalam konteks kehidupan masa kini. Ia mencontohkan tokoh Mbok Rondo Dadapan atau “Mbiyung” dalam kisah Ande-Ande Lumut yang menggambarkan sosok pengasuh yang diperlakukan seperti seorang ibu. Rektor juga menilai kisah tersebut mengandung nilai penghormatan terhadap perempuan, termasuk perempuan yang menjalankan peran sebagai orang tua tunggal.
“Kalau di cerita ketoprak, cerita ludruk, dan juga drama-drama, ini sekarang sudah menginternasional,” ujar Rektor.
Lydia Kieven Telusuri Jejak Arjunawiwaha dan Panji
Lydia Kieven dalam paparannya menjelaskan jejak Arjunawiwaha yang direpresentasikan melalui relief pada sejumlah candi di Jawa Timur. Ia menunjukkan beberapa situs, di antaranya Goa Selomangleng di Tulungagung, Candi Surowono di Kediri, Candi Jago di Malang, hingga sejumlah situs di Gunung Penanggungan. Lydia juga memaparkan Candi Penampihan di Gunung Wilis yang oleh masyarakat setempat disebut Candi Asmorobangun serta Candi Mirigambar di Kabupaten Tulungagung yang memiliki relief berkaitan dengan cerita Panji Wasengsari.
Dwi Cahyono Ungkap Jejak Cerita Panji di Tulungagung
Sementara itu, Dwi Cahyono dalam paparannya menguraikan keberadaan jejak cerita Panji pada sejumlah peninggalan arkeologis di Tulungagung. Salah satunya terdapat pada Candi Sanggrahan, yang memiliki fragmen relief dengan ciri yang dinilai memiliki kemiripan dengan relief cerita Panji di Candi Mirigambar. Fragmen tersebut menampilkan sosok pria bertopi tekes yang sedang mengendarai perahu. Dwi juga mengaitkan perkembangan cerita Panji dengan tradisi pertunjukan masyarakat Jawa Timur, termasuk kisah Ande-Ande Lumut yang dikenal sebagai salah satu versi cerita Panji, khususnya di Tulungagung.
Menurut Dwi, jejak Panji tidak hanya dapat dibaca melalui cerita yang berkembang di masyarakat, tetapi juga melalui peninggalan arkeologis dan seni pertunjukan. Kajian terhadap relief dan tradisi tersebut menjadi bagian penting untuk memahami perkembangan budaya Panji serta keterkaitannya dengan sejarah kebudayaan Jawa Timur.
Tulungagung Punya Potensi Sejarah dan Budaya
Rektor juga menyoroti kekayaan sejarah Tulungagung yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata edukasi. Salah satunya adalah Wajakensis yang menurutnya telah dikenal dalam berbagai literatur, tetapi masih perlu dieksplorasi dan dikenalkan secara lebih luas kepada masyarakat.
“Tulungagung ini sudah menginternasional lewat Wajakensis,” ungkapnya.
Menurut Rektor, kekayaan sejarah dan budaya Tulungagung dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Kajian akademik dari perguruan tinggi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi wisata dan edukasi yang dilakukan pemerintah.
Ia membayangkan berbagai situs dan kekayaan sejarah Tulungagung dapat dikenalkan sebagai wisata edukasi sejak jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga dapat belajar secara langsung dari peninggalan budaya yang ada di lingkungan mereka.
UIN SATU dan Pemda Perkuat Kolaborasi
Sebagai Kampus Dakwah dan Peradaban, UIN SATU memiliki ruang untuk mengambil peran dalam menggali berbagai pengetahuan lokal yang berkembang di Tulungagung. Rektor mendorong agar budaya, sejarah, tradisi, serta hubungan masyarakat dengan alam dapat menjadi objek kajian akademik yang lebih serius.
“Kalau kemudian Dinas Pariwisata juga berkolaborasi dengan perguruan tinggi, saya kira banyak hal yang bisa kita ungkap terkait dengan kekayaan-kekayaan yang ada di Tulungagung,” tutur Rektor.
Melalui Sarasehan Internasional “Tapak Budaya Panji di Tulungagung”, UIN SATU mendorong agar jejak Panji dan berbagai peninggalan sejarah di Tulungagung terus dikaji, didokumentasikan, dan dikenalkan kepada generasi muda. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian sekaligus pengembangan kekayaan budaya Tulungagung sebagai sumber pembelajaran dan wisata edukasi.
