Ringkasan Berita:
-Pascasarjana UIN SATU menyambut 406 mahasiswa baru program magister dan doktor tahun akademik 2026 dengan menggelar Studium Generale dan Orientasi Studi Mahasiswa Baru Selasa (8/9/2026) di Auditorium Pascasarjana Lantai 5..
-Rektor UIN SATU menekankan pentingnya kemandirian berpikir, kedewasaan, dan proses belajar yang tidak sekadar berorientasi pada gelar.
-Mahasiswa didorong memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai mitra belajar tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi
Tulungagung — Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menyelenggarakan Studium Generale dan Orientasi Studi Mahasiswa Baru Program Magister (S-2) dan Doktor (S-3) Tahun 2026 pada Selasa (8/9/2026), pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Auditorium Pascasarjana Lantai 5, Gedung Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Kegiatan tersebut dihadiri Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. H. Abdul Aziz, M.Pd.I., Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I., narasumber Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., jajaran pengelola Pascasarjana, serta mahasiswa baru S-2 dan S-3.
Kegiatan bertema “Generasi Digital dan Tantangan Artificial Intelligence” tersebut diikuti mahasiswa baru dari berbagai jalur penerimaan sebagai bagian dari pembekalan awal untuk beradaptasi dengan lingkungan akademik Pascasarjana. Dari 406 mahasiswa baru yang diterima pada semester ganjil 2026, sebanyak 383 mahasiswa mengikuti Studium Generale dan Orientasi Studi Mahasiswa Baru, terdiri atas 331 mahasiswa S-2 dan 52 mahasiswa S-3, baik secara luring maupun daring.
Direktur Pascasarjana: Mahasiswa Perlu Beradaptasi dengan Lingkungan Pascasarjana
Direktur Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I., menyampaikan sambutan sekaligus gambaran awal mengenai kondisi mahasiswa baru Pascasarjana. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa yang diterima berasal dari berbagai jalur, yakni reguler, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), portofolio, serta LPPD Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Prof. Ahmad Tanzeh menyampaikan bahwa sebanyak 383 mahasiswa mengikuti kegiatan, yang terdiri atas 331 mahasiswa program magister dan 52 mahasiswa program doktor. Sementara itu, jumlah mahasiswa yang diterima pada semester ganjil 2026 mencapai 406 mahasiswa.
Ia juga menekankan perlunya mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan Pascasarjana, termasuk dengan pola pembelajaran yang dapat berlangsung secara luring maupun daring. Perkembangan teknologi, internet, dan perangkat digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran, pengajaran, maupun pelayanan akademik.
Karena itu, kesiapan infrastruktur pembelajaran digital serta kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi menjadi bagian penting dalam mendukung proses pendidikan di Pascasarjana.
Rektor Tekankan Pascasarjana sebagai Proses Pendewasaan Berpikir
Setelah sambutan Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H. Abdul Aziz, M.Pd.I.,memberikan arahan kepada mahasiswa baru. Rektor menegaskan bahwa memasuki jenjang S-2 dan S-3 bukan sekadar upaya memperoleh gelar, melainkan proses untuk membentuk kematangan berpikir, perilaku, dan sikap akademik.
“Pascasarjana itu bukan hanya sekadar bagaimana kita mendapatkan gelar, tetapi bagaimana kita bisa mengubah cara berpikir kita, mengubah perilaku kita, dan juga bagaimana kita bisa menjadi lebih dewasa,” ujar Prof. Abdul Aziz.
Menurutnya, mahasiswa Pascasarjana dituntut memiliki pola belajar yang berbeda dengan mahasiswa jenjang sarjana. Mahasiswa harus mampu berpikir kritis, belajar secara mandiri, serta menemukan kebaruan dalam teori maupun pengembangan ilmu pengetahuan.
“Pascasarjana itu artinya kita keluar dari zona nyaman menuju zona ketidaknyamanan. Karena memang di Pascasarjana itu dituntut untuk belajar secara mandiri,” tuturnya.
Rektor Ingatkan Penggunaan AI Harus Tetap Disertai Proses Berpikir
Dalam konteks tema kegiatan, Rektor juga memberikan perhatian terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, teknologi dapat memberikan kemudahan dalam proses belajar, tetapi tidak boleh menggantikan proses berpikir mahasiswa.
Rektor menekankan bahwa proses pendidikan harus mampu mengubah cara berpikir mahasiswa menjadi lebih matang. Data yang diperoleh harus melalui proses analisis sebelum diwujudkan dalam tindakan atau kesimpulan.
Karena itu, mahasiswa diingatkan agar menggunakan teknologi dan media sosial secara bijaksana serta tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan pekerjaan akademik.
Prof. Nur Syam: AI Harus Menjadi Mitra, Bukan Pengganti
Penguatan mengenai pemanfaatan AI kemudian disampaikan Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., Guru Besar Sosiologi Agama UIN Sunan Ampel Surabaya.
Prof. Nur Syam mendorong mahasiswa Pascasarjana menjadi pengguna AI yang adaptif, tetapi tetap mempertahankan kemampuan berpikir mandiri. AI, menurutnya, dapat digunakan sebagai mitra dalam proses akademik, bukan sebagai pengganti seluruh proses penelitian.
“Jadikan AI itu sebagai mitra, sebagai kawan kita dalam menyelesaikan masalah, bukan menjadi satu-satunya sumber menyelesaikan masalah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk membangun pemikiran terlebih dahulu sebelum meminta bantuan AI.
“Pikir dulu baru bertanya ke AI,” pesannya.
Melalui Studium Generale dan Orientasi Studi Mahasiswa Baru, Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung terus memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi dan AI dengan tetap menempatkan kemandirian berpikir, kedewasaan akademik, dan integritas sebagai bagian utama dalam proses pendidikan.
