Tulungagung — UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menjadi tuan rumah Evaluasi Pendaftaran UM-PTKIN 2026 yang dihadiri jajaran Kementerian Agama RI, Forum Rektor PTKIN, serta pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari seluruh Indonesia, Minggu (07/06/2026).
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan yang berlangsung di Lapangan Padel Timur UIN SATU Tulungagung. Sebelum memasuki agenda evaluasi, para peserta menikmati berbagai aktivitas kebersamaan, mulai dari mencoba permainan basket, mengunjungi area photobooth, hingga mengikuti sesi doorprize yang menambah semarak suasana.
Keakraban semakin terasa saat SATU Voice UIN SATU Tulungagung mengiringi para tamu undangan dalam jamuan makan malam bersama. Beragam kuliner khas Tulungagung turut disajikan sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan kepada para pimpinan PTKIN yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia.
Memasuki sesi utama, forum diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta pemutaran video ReliGreen. Selanjutnya, Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sekaligus Ketua Panitia Nasional SPAN dan UM PTKIN 2026, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd.I., menyampaikan laporan pelaksanaan UM-PTKIN 2026.
Dalam laporannya, Prof. Aziz mengungkapkan bahwa target pendaftar UM-PTKIN tahun 2026 sebanyak 80.639 peserta berhasil terlampaui dengan jumlah pendaftar mencapai 92.556 peserta.
“Capaian ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap PTKIN sebagai destinasi pendidikan tinggi yang unggul dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ungkap Rektor.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pimpinan PTKIN dan jajaran Kementerian Agama yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru nasional tersebut.
Apresiasi atas terselenggaranya forum nasional ini juga disampaikan oleh Plt. Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharuddin. Menurutnya, PTKIN memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berakhlak mulia.
“Pendidikan berbasis keagamaan memiliki kontribusi besar dalam membangun mental dan karakter bangsa. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi harus terus diperkuat,” ujarnya.
Pandangan mengenai pentingnya penguatan PTKIN turut disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. Ia memaparkan berbagai capaian PTKIN yang terus menunjukkan perkembangan positif, baik dalam bidang akreditasi, publikasi ilmiah internasional, maupun penguatan integrasi keilmuan.
Menurutnya, PTKIN perlu terus membaca perkembangan zaman dengan memperkuat kolaborasi antara studi keislaman, sains, teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan robotika guna meningkatkan daya saing lulusan di masa depan.
“PTKIN harus mampu membaca perkembangan zaman dengan menghadirkan integrasi ilmu yang kuat. Keislaman, sains, teknologi, dan inovasi harus berjalan beriringan untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman,” jelasnya.
Arahan strategis kemudian disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A. Ia menegaskan bahwa PTKIN harus mampu menjadi penggerak transformasi bangsa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“PTKIN tidak boleh hanya menjadi lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan, tetapi harus mampu menjadi pusat perubahan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak dapat hanya berfungsi sebagai menara gading akademik, tetapi juga harus menghadirkan dampak nyata melalui penguatan sumber daya manusia, ekonomi syariah, inovasi, serta kontribusi terhadap pembangunan nasional. Ia juga menyoroti pentingnya implementasi program prioritas Kementerian Agama, termasuk penguatan ekoteologi sebagai upaya menumbuhkan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan hidup.
Forum kemudian berlanjut dengan sesi dialog dan refleksi yang mempertemukan para pimpinan PTKIN untuk membahas pelaksanaan UM-PTKIN 2026, capaian yang telah diraih, serta berbagai strategi penguatan mutu pendidikan tinggi keagamaan Islam di masa mendatang. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta.
Pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi bagi PTKIN se-Indonesia untuk memperkuat kolaborasi, berbagi praktik baik, serta merumuskan langkah-langkah strategis dalam menghadirkan layanan pendidikan tinggi Islam yang semakin berkualitas, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.
