Menuntut Ilmu Adalah Tantangan Puasa

IMG 20260226 WA0002

Oleh: Prof. Dr. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag. (Guru Besar Tafsir UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Ramadhan sering dipahami sebatas momentum peningkatan ibadah ritual. Masjid lebih ramai, tadarus menggema, dan sedekah meningkat. Namun, terdapat satu dimensi yang kerap luput dari perhatian: menuntut ilmu sebagai bagian dari tantangan puasa itu sendiri. Puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan menjaga konsistensi berpikir, membaca, dan belajar dalam kondisi fisik yang tidak sepenuhnya prima.

Jika kita menengok kembali fondasi ajaran Islam, perintah pertama yang turun bukanlah “shalatlah”, “berpuasalah”, atau “berzakatlah”. Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah Iqra’—bacalah. Dalam QS. Al-‘Alaq: 1–5 ditegaskan: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…” Ayat ini menandai bahwa menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat signifikan dalam Islam. Sebelum kewajiban-kewajiban ritual ditetapkan, Islam terlebih dahulu membangun fondasi kesadaran intelektual.

Perintah Iqra’ tidak berhenti pada aktivitas membaca teks, tetapi mencakup membaca realitas, membaca sejarah, dan membaca diri sendiri. Qirā’ah menjadi kunci utama dalam proses menuntut ilmu. Dari sinilah lahir peradaban. Islam sejak awal menegaskan dirinya sebagai agama ilmu pengetahuan. Wahyu pertama telah memberikan arah bahwa kebangkitan umat tidak mungkin dicapai tanpa tradisi literasi dan pencarian ilmu secara sungguh-sungguh.

Kedudukan mencari ilmu, dengan demikian, bukan sekadar anjuran moral, tetapi mandat teologis. Ia hadir sebagai perintah pertama sebelum perintah-perintah lain menyusul. Artinya, kualitas ibadah seseorang sangat ditentukan oleh kualitas ilmunya. Puasa tanpa ilmu akan kehilangan orientasi; ibadah tanpa pemahaman mudah terjebak pada formalitas semata.

Di bulan Ramadhan, tantangan menuntut ilmu terasa lebih nyata. Secara fisik, tubuh mengalami keterbatasan energi akibat menahan lapar dan haus. Rasa lelah kerap dijadikan alasan untuk mengurangi aktivitas membaca dan berpikir. Namun justru di sinilah letak nilai perjuangannya. Menuntut ilmu saat berpuasa berarti membuktikan bahwa semangat intelektual tidak tunduk pada kondisi jasmani semata.

Tantangan ini semakin kompleks di era generasi muda saat ini. Budaya literasi berhadapan langsung dengan budaya scrolling. Tidak sedikit anak muda yang lebih akrab dengan layar gawai dan media sosial daripada buku-buku bacaan. Waktu berjam-jam dapat habis untuk menggulir konten singkat yang serba cepat dan instan, sementara membaca buku yang membutuhkan konsentrasi mendalam terasa berat. Jika kondisi ini tidak disadari, maka spirit Iqra’ perlahan dapat terkikis oleh arus distraksi digital.

Padahal, persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara menggunakannya. Media sosial dan perangkat digital sejatinya dapat menjadi sarana penguatan literasi apabila dimanfaatkan secara bijak. Generasi muda perlu menggeser orientasi dari sekadar konsumsi hiburan menuju konsumsi pengetahuan. Mengikuti perpustakaan digital, membaca jurnal daring, mengunduh dan menelaah e-book, serta memanfaatkan platform literasi online merupakan bentuk aktualisasi perintah Iqra’ di era modern. Tantangan zaman tidak dihadapi dengan menolak teknologi, tetapi dengan mengendalikannya agar tetap berpihak pada penguatan ilmu.

Tradisi keilmuan Islam menunjukkan bahwa puasa tidak pernah menjadi penghalang produktivitas intelektual. Banyak ulama tetap mengajar, menulis, dan berdiskusi di bulan Ramadhan. Spiritualitas yang meningkat justru melahirkan kejernihan berpikir. Ketika hati lebih dekat kepada Allah, pikiran pun lebih mudah menangkap hikmah dan kebenaran.

Dalam konteks perguruan tinggi, semangat Iqra’ harus terus dihidupkan. Kampus bukan sekadar ruang administratif perkuliahan, melainkan ruang pengabdian intelektual dan pembentukan karakter. Sivitas akademika dituntut menunjukkan bahwa Ramadhan bukan bulan perlambatan akademik, melainkan bulan penguatan kualitas diri. Membaca, meneliti, dan menulis tetap berjalan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.

Pada akhirnya, menuntut ilmu adalah tantangan puasa yang paling mendasar. Ia menguji konsistensi, kesungguhan, dan integritas seorang mukmin. Jika perintah pertama dalam Islam adalah membaca, maka semangat membaca harus tetap menyala dalam kondisi apa pun, termasuk saat berpuasa dan di tengah derasnya arus digital. Dari sinilah lahir pribadi muslim yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga unggul secara intelektual serta kontributif bagi peradaban.

( Materi disampaikan dalam Program “Lentera Ramadhan” yang ditayangkan di Channel YouTube SATU Televisi. tayangan dapat disimak melalui link: https://www.youtube.com/watch?v=vuub0DjFC1A )

Photographer: Kontributor
Skip to content