43 Prodi UIN SATU Kantongi Sertifikat RPL, Rektor Tegaskan Ini Pintu Baru Reformasi Akademik

Kontributor:

20260508 FGD RPL LPM

Tulungagung — Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung menggelar Focused Group Discussion (FGD) Penilaian Portofolio Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Jumat (08/05/2026) di Lantai 3 Gedung Rektorat UIN SATU Tulungagung.

Forum yang dihadiri Rektor, para Wakil Rektor, Ketua LPM, para Kaprodi, dan seluruh pemangku kepentingan akademik ini menjadi ruang konsolidasi teknis sekaligus strategis pasca diraihnya sertifikat RPL untuk 43 program studi di lingkungan UIN SATU.

FGD membahas sejumlah agenda teknis, mulai dari timeline pendaftaran dan penilaian, petunjuk teknis pelaksanaan, persyaratan calon pendaftar, formulir yang wajib dilengkapi, hingga ketentuan dan mekanisme penilaian portofolio.

Ketua LPM UIN SATU, Prof. Agus Zaenul Fitri dalam laporannya menyampaikan bahwa persiapan sistem sedang dimatangkan bersama PTIPD, khususnya terkait pengembangan aplikasi online boarding (OB) yang akan menopang proses RPL secara daring.

“Pada intinya, kami ingin sistem ini berjalan smooth. Semoga sistem OB itu sudah dirancang dan dikenalkan kepada calon mahasiswa RPL,” ungkapnya.

Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Abd. Aziz dalam sambutannya menyebut capaian 43 prodi bersertifikat RPL sebagai tonggak bersejarah yang lahir dari ikhtiar kolektif seluruh sivitas akademika.

“Tidak sampai satu minggu, apa yang kita cita-citakan terwujud betul. Ini adalah sebuah kerja keras, ikhtiar kolektif, ikhtiar lahir batin dari kita semua. Dan saya kira PTKIN seluruh Indonesia masih kita yang mempunyai 43 prodi RPL,” sambut Rektor.

Rektor menjelaskan bahwa capaian ini bukanlah keberuntungan semata, melainkan bagian dari milestone yang telah dirancang sejak 2024. Keputusan untuk mengajukan seluruh prodi secara serentak pun disebut sebagai langkah strategis yang terukur, mengingat adanya kemungkinan perubahan kebijakan di akhir tahun yang mensyaratkan akreditasi Unggul sebagai syarat minimal.

Lebih jauh, Rektor menegaskan bahwa RPL bukan sekadar tambahan jalur penerimaan mahasiswa, melainkan pintu baru reformasi akademik yang membuka peluang besar, baik dari sisi kontribusi sosial maupun penguatan Badan Layanan Umum (BLU) kampus.

“43 ini menjadi modal yang sangat besar tidak hanya faktor finansial, tapi bagaimana bisa merekognisi dan memberikan kontribusi lebih kepada masyarakat yang membutuhkan,” tutur Rektor.

Terkait tata kelola, Rektor menyampaikan tiga hal yang menjadi prioritas pengembangan RPL ke depan. Pertama, penguatan Learning Management System (LMS) sebagai tulang punggung layanan daring bagi peserta yang mayoritas adalah pekerja aktif. Kedua, penyusunan Biaya Kuliah Tunggal (BKT) yang proporsional dengan menegaskan bahwa UIN SATU sebagai perguruan tinggi negeri tidak diperbolehkan menarik pungutan di luar UKT. Ketiga, pengembangan kurikulum berbasis OBE yang mencakup tiga unsur yaitu institusi, fakultas, dan program studi sesuai ketentuan dari Kemdikbudristek selaku pemberi sertifikat.

“Ini yang harus kita pahami bersama bahwa kita sedang membuka pintu baru, yaitu RPL. Saya membayangkan, harus optimis, bahwa peserta RPL nanti banyak, karena masih banyak yang membutuhkan,” ujar Rektor.

Di akhir, Rektor turut menekankan bahwa keberlanjutan program RPL ini sangat bergantung pada komitmen pelaporan tiap semester dari masing-masing prodi.

“Jikalau ingin sustainable, berkelanjutan, maka per semester harus melaporkan. Biar kebermanfaatannya banyak dan yang terpenting, menghidupi ini bersama, karena ini cita-cita bersama,” pungkas Rektor.

Dengan diraihnya sertifikat RPL untuk 43 prodi, UIN SATU Tulungagung kini menjadi PTKIN dengan jumlah prodi bersertifikat RPL terbanyak di Indonesia, sebuah capaian yang diharapkan menjadi katalis percepatan reformasi akademik sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat yang selama ini belum terlayani oleh jalur reguler.

Editor: Ulil Abshor
Photographer: M. Anwar Aziz
Skip to content