Puasa untuk Meningkatkan Kualitas Diri

Kontributor:

Prof asmawi

Oleh: Prof. Dr. H. Asmawi, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Filsafat Hukum Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Bulan Ramadan selalu datang dengan harapan baru. Setiap muslim menyambutnya dengan rasa syukur sekaligus harapan agar ibadah yang dijalani tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. Ramadan menjadi momentum spiritual yang seharusnya menghadirkan perubahan nyata dalam diri. Puasa turut menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri menuju derajat takwa kepada Allah SWT.

Al-Qur’an secara tegas menyebutkan tujuan puasa dalam firman-Nya: la’allakum tattaqun yaitu agar kamu bertakwa. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Takwa bukan sesuatu yang datang begitu saja setelah seseorang berpuasa sebulan penuh. Ia membutuhkan proses, kesadaran, dan strategi dalam menjalani ibadah puasa itu sendiri.

Secara terminologis, puasa diartikan sebagai al-imsak ‘an al-mufthirat min al-fajr ila ghurub al-syams, yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Definisi ini memang menekankan aspek menahan diri, tetapi maknanya tidak sesederhana sekadar tidak makan dan tidak minum. Puasa sesungguhnya merupakan latihan pengendalian diri yang menyeluruh.

Dimensi pertama dari pengendalian diri dalam puasa adalah aspek badaniah atau fisik. Dalam dimensi ini, seseorang dilatih untuk menahan berbagai kebutuhan biologis yang pada hari-hari biasa diperbolehkan. Makan, minum, dan hubungan biologis adalah kebutuhan dasar manusia. Namun selama Ramadan, semua itu harus ditahan dalam rentang waktu tertentu. Latihan ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh sepenuhnya dikendalikan oleh dorongan biologisnya.

Tanpa pengendalian diri, manusia bisa saja terjebak pada dorongan nafsu yang bersifat kebinatangan. Orientasi hidup hanya berkutat pada pemenuhan kebutuhan fisik yaitu makan, minum, dan kesenangan biologis semata. Namun, puasa hadir untuk menyeimbangkan kecenderungan tersebut. Dengan menahan kebutuhan dasar, manusia diingatkan bahwa dirinya memiliki dimensi spiritual yang membedakannya dari makhluk lain.

Selain aspek badaniah, puasa juga menuntut pengendalian diri pada dimensi empiris atau indrawi (hisiah). Indra manusia mulai dari mata, telinga, dan anggota tubuh lainnya sering kali menjadi pintu masuk berbagai rangsangan yang dapat mengganggu kejernihan hati. Mata yang bebas melihat apa saja, telinga yang mendengar tanpa seleksi, atau lisan yang berbicara tanpa kendali, semuanya dapat mengurangi nilai spiritual puasa.

Oleh karena itu, puasa juga berarti menahan indra dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Mata perlu dijaga dari pandangan yang tidak pantas, telinga dari informasi yang merusak, dan lisan dari perkataan yang tidak perlu. Jika pengendalian indra ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, puasa tidak hanya menjadi ibadah fisik, tetapi juga latihan kedewasaan dalam menyaring informasi dan perilaku.

Dimensi ketiga yang tidak kalah penting adalah pendekatan rohaniah atau pengendalian hati. Dalam tradisi tasawuf, hati dipandang sebagai pusat dari perilaku manusia. Jika hati dipenuhi sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, sombong, atau riya, maka perilaku manusia pun akan mencerminkan hal tersebut. Karena itu, puasa juga mengajarkan pembersihan hati dari sifat-sifat tercela.

Dalam banyak hadis disebutkan beberapa perilaku yang dapat merusak nilai puasa, seperti ghibah, berbohong, sumpah palsu, dan adu domba. Semua perilaku tersebut sejatinya berakar dari hati yang tidak terkendali. Puasa seharusnya menjadi kesempatan untuk menahan diri dari kebiasaan tersebut sekaligus memperbaiki kualitas batin.

Jika ketiga dimensi ini badaniah, indrawi, dan rohaniah dijalankan secara seimbang, puasa akan menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kualitas diri. Namun jika puasa hanya dimaknai sebatas menahan lapar dan dahaga, maka manfaatnya menjadi sangat terbatas. Puasa semacam itu mungkin hanya menghasilkan perubahan sementara tanpa dampak spiritual yang mendalam.

Dalam kajian tafsir dikenal sebuah ungkapan: hasanatul abror sayyi’atul muqarrabin. Sesuatu yang dianggap baik bagi orang-orang saleh biasa belum tentu cukup bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, kualitas ibadah juga memiliki tingkatan. Ada orang yang berpuasa sekadar menjalankan kewajiban, tetapi ada pula yang menjadikannya sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pada akhirnya, Ramadan seharusnya menjadi ruang refleksi untuk menilai kembali kualitas puasa kita. Apakah puasa kita hanya menahan lapar dan haus, ataukah juga mengendalikan indra dan membersihkan hati. Pertanyaan ini penting karena tujuan akhir puasa bukan sekadar menjadi orang baik, melainkan menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah. Dengan kesadaran itu, puasa dapat benar-benar menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas diri.

(Materi disampaikan dalam program Mutiara Ramadhan Eps. 004 Pascasarjana UIN SATU Tulungagung yang ditayangkan di Channel YouTube Pascasarjana UIN SATU dan Reels Instagram Pascasarjana UIN SATU. tayangan dapat disimak melalui link: https://youtu.be/qErxOlJH96g?si=D8VT6y5laKkIISSf )

Editor: Devita Nurwati
Photographer: Kontributor
Skip to content