Oleh: Dr. Rizqa Ahmadi, Lc., M.A. (Pengajar di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Di antara keistimewaan bulan Ramadhan, Lailatul Qadar menempati posisi yang sangat istimewa. Al-Qur’an menyebutkan bahwa malam tersebut “lebih baik daripada seribu bulan”. Ungkapan ini bukan sekadar gambaran tentang besarnya pahala ibadah, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang nilai waktu dalam kehidupan manusia. Dalam satu malam, Allah Swt. memperlihatkan bahwa waktu yang singkat dapat memiliki nilai yang luar biasa besar apabila dimanfaatkan dengan kesungguhan. Di sinilah Lailatul Qadar bukan hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga pelajaran tentang bagaimana manusia menghargai setiap detik kehidupan yang dimilikinya.
Sering kali Lailatul Qadar dipahami hanya sebagai malam penuh keberkahan yang dicari melalui ibadah-ibadah ritual. Padahal, jika ditelaah lebih dalam melalui kajian hadis dan refleksi keagamaan, pesan yang terkandung di dalamnya tidak berhenti pada dimensi spiritual semata. Setiap ibadah dalam Islam selalu membawa spirit yang berdampak pada kehidupan sehari-hari. Artinya, hubungan manusia dengan Tuhan tidak pernah terpisah dari tanggung jawabnya sebagai makhluk sosial yang hidup, belajar, dan berinteraksi dengan sesama.
Dalam konteks ini, Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai simbol efisiensi dan kesungguhan dalam memanfaatkan waktu. Jika satu malam saja bisa bernilai lebih baik daripada seribu bulan, maka manusia sejatinya diajak untuk tidak meremehkan kesempatan sekecil apa pun. Prinsip ini memiliki relevansi kuat bagi dunia pendidikan, terutama bagi mahasiswa yang sedang menempuh proses pembentukan intelektual dan karakter.
Bagi mahasiswa, pesan Lailatul Qadar dapat diterjemahkan menjadi etos belajar yang konsisten. Banyak mahasiswa yang terbiasa menunda pekerjaan hingga mendekati batas waktu atau “deadline”. Padahal, proses belajar yang baik tidak dibangun dari kebiasaan menunggu saat-saat terakhir. Lailatul Qadar mengajarkan bahwa peluang keberkahan bisa datang kapan saja, sehingga manusia harus selalu siap dan berusaha sejak awal. Dalam dunia akademik, sikap ini tercermin dalam kesungguhan belajar, kedisiplinan mengelola waktu, serta kontinuitas dalam mencari ilmu.
Menariknya, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah Swt. Para ulama menyebutkan bahwa malam tersebut biasanya berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Kerahasiaan ini mengandung hikmah besar. Manusia tidak diarahkan untuk beribadah hanya pada satu malam tertentu, melainkan didorong untuk terus berusaha mencarinya sepanjang waktu. Dengan kata lain, keberkahan tidak diberikan kepada mereka yang menunggu, tetapi kepada mereka yang terus berusaha.
Pesan ini juga relevan dalam kehidupan akademik dan sosial mahasiswa. Keberhasilan tidak selalu datang dari satu usaha besar yang dilakukan secara tiba-tiba, melainkan dari proses panjang yang konsisten. Ketekunan membaca, berdiskusi, menulis, dan memperluas wawasan adalah bagian dari upaya “mencari” keberhasilan tersebut. Sebagaimana pencarian Lailatul Qadar yang dilakukan sepanjang malam-malam Ramadhan, demikian pula pencarian ilmu yang harus dilakukan dengan kesungguhan dan keberlanjutan.
Lebih dari itu, wawasan yang diperoleh melalui proses belajar juga membentuk sikap sosial yang lebih matang. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan luas cenderung memiliki cara pandang yang lebih terbuka, mampu memahami perbedaan, serta menghargai keberagaman. Dalam konteks inilah dimensi spiritual dan sosial saling berkaitan. Ibadah yang dilakukan dengan kesadaran akan melahirkan kepekaan terhadap sesama, termasuk dalam membangun sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan hanya malam yang dicari melalui doa dan ibadah, tetapi juga momentum refleksi tentang bagaimana manusia memaknai waktu dan kesempatan. Ia mengajarkan bahwa keberkahan sering kali tersembunyi di balik usaha yang konsisten dan kesungguhan yang terus-menerus.
Pada akhirnya, mengejar Lailatul Qadar tidak berarti menunggu hingga sepuluh malam terakhir Ramadhan saja. Semangat yang terkandung di dalamnya justru mengajarkan manusia untuk menghargai setiap waktu yang diberikan Tuhan. Ketika setiap kesempatan dimanfaatkan dengan baik-baik dalam ibadah, belajar, maupun berbuat kebaikan, maka manusia sedang menapaki makna terdalam dari Lailatul Qadar: menjadikan waktu yang singkat bernilai besar di hadapan Allah Swt, dan bermanfaat bagi kehidupan.
(Materi disampaikan dalam Program “Lentera Ramadhan” yang ditayangkan di Channel YouTube SATU Televisi. tayangan dapat disimak melalui link: https://www.youtube.com/watch?v=B7lb0nC9c6Y )
