Menag Tekankan Ekoteologi dan Literasi Al-Qur’an sebagai Fondasi Peradaban, UIN SATU Siap Perkuat Implementasi

Kontributor:

kunjungan menag di uinsatu 2026 12

Tulungagung — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya penguatan ekoteologi dan literasi Al-Qur’an sebagai fondasi dalam membangun peradaban Islam yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam kunjungannya di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Kamis (16/04/2026), bertempat di Aula Prajnaparamita.

Dalam arahannya, Menteri Agama menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan pendekatan yang menghubungkan secara utuh relasi antara Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Menurutnya, pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada dimensi tekstual semata, tetapi harus diperluas pada realitas kehidupan dan semesta.

“Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi juga harus dibaca sebagai realitas kehidupan dan alam semesta yang penuh tanda-tanda Tuhan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa alam semesta dapat dipahami sebagai “Qur’an kosmos” yang mengandung hukum-hukum universal (takwini), sementara Al-Qur’an sebagai wahyu membawa hukum syariat (tasyri’) yang mengatur kehidupan manusia.

Dalam perspektif tersebut, manusia memiliki peran strategis sebagai khalifah di bumi karena mampu memahami kedua dimensi tersebut sekaligus.

“Hubungan manusia dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawabnya terhadap alam. Di situlah letak makna ekoteologi,” lanjutnya.

Menteri Agama juga menekankan pentingnya cara berpikir yang luas dan bijak dalam memahami hukum dan realitas sosial, serta mendorong agar literasi Al-Qur’an mampu melahirkan sikap solutif dalam kehidupan.

“Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi diam-diam memperbaiki keadaan,” ujarnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi Islam, ia mendorong mahasiswa untuk mengembangkan berbagai sumber pengetahuan, tidak hanya rasional, tetapi juga spiritual dan reflektif.

Menurutnya, kekayaan epistemologi dalam tradisi Islam menjadi keunggulan yang harus dimanfaatkan secara optimal.

Di akhir arahannya, Menteri Agama mengajak seluruh civitas akademika untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah keagamaan.

“Cintailah apa yang ada di bumi, rawat dan jaga sebagai amanah Tuhan,” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Abdul Aziz, menyampaikan apresiasi atas arahan yang diberikan Menteri Agama. Ia menilai bahwa penguatan ekoteologi dan literasi Al-Qur’an menjadi landasan penting dalam pengembangan pendidikan di kampus.

“Kami siap menguatkan implementasi nilai-nilai tersebut dalam sistem pendidikan dan kehidupan kampus, sehingga mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan ekologis,” ujarnya.

Dengan adanya penguatan tersebut, UIN SATU diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan keilmuan Islam yang integratif, adaptif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Editor: Ulil Abshor
Photographer: Abiyyu Abbiyyu
Skip to content