Rektor UIN SATU Tegaskan Komitmen Ekoteologi dan Kemandirian Kampus di Hadapan Menag

Kontributor:

kunjungan menag di uinsatu 2026 13

Tulungagung — Kehadiran Menteri Agama Republik Indonesia dalam kunjungan ke UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menjadi momentum penting dalam penguatan arah pengembangan kampus berbasis integrasi keilmuan dan nilai keislaman. Agenda yang dipusatkan di Aula Prajnaparamita pada Kamis (16/04/2026) tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tamu undangan.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Abdul Aziz, menegaskan komitmen kampus dalam mengembangkan ekoteologi sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan Islam yang terintegrasi dan berdampak.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa konsep ekoteologi tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi telah diwujudkan melalui langkah konkret di lingkungan kampus.

“Kami mulai memanfaatkan wilayah-wilayah kosong di lingkungan kampus untuk mendukung usaha bersama. Melalui efisiensi yang dilakukan, Alhamdulillah kebutuhan pangan tahun 2025–2026 dapat terpenuhi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian kampus sekaligus implementasi nilai keislaman dalam pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Rektor juga menyampaikan harapan adanya dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun Kementerian Agama, khususnya dalam pengembangan lahan dan pembangunan infrastruktur kampus.

“Kami memohon dukungan untuk pengembangan lahan serta pembangunan gedung-gedung baru agar UIN SATU dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa integrasi antara literasi Al-Qur’an dan kesadaran ekologis menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teks keagamaan, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan, termasuk dalam menjaga dan merawat lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pendekatan ekoteologi merupakan kunci dalam memahami hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta secara utuh.

“Literasi Al-Qur’an tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca teks, tetapi juga harus mencakup kemampuan membaca realitas kehidupan sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh UIN SATU dalam mengintegrasikan nilai keagamaan dengan praktik kehidupan nyata di lingkungan kampus.

“Upaya yang dilakukan UIN SATU dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keislaman ini merupakan langkah yang baik dan perlu terus diperkuat,” tambahnya.

Di akhir kegiatan, Rektor berharap arahan yang disampaikan Menteri Agama dapat semakin memperkuat langkah strategis kampus dalam mengembangkan pendidikan Islam yang unggul, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.

Editor: Ulil Abshor
Photographer: M. Anwar Aziz
Skip to content