Tulungagung — Penguatan moderasi beragama yang terus diupayakan Kementerian Agama Republik Indonesia mendapat dukungan dari kalangan perguruan tinggi keagamaan Islam. Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) mendukung upaya tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kerukunan, merawat keberagaman, dan memperkuat persatuan bangsa. Dukungan ini juga menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menanamkan nilai toleransi sekaligus memanfaatkan publikasi digital untuk memperluas jangkauan pesan moderasi beragama kepada masyarakat.
Perhatian terhadap moderasi beragama Indonesia semakin menguat setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar menyelesaikan kunjungan kerja ke Italia dan Vatikan pada Oktober 2026. Dalam rangkaian forum tokoh agama dunia di Assisi, Italia, pengalaman Indonesia dalam menjaga kehidupan beragama yang harmonis mendapat respons positif. Kunjungan tersebut turut membuka peluang kerja sama internasional dalam bidang pendidikan, dialog antaragama, dan diplomasi keagamaan.
Menteri Agama menyampaikan bahwa sejumlah perwakilan dari Inggris, Australia, dan Pakistan menunjukkan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia. Selain itu, peluang kolaborasi akademik juga muncul dengan perguruan tinggi di Italia dan Vatikan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman memiliki relevansi dalam membangun hubungan antaragama di tingkat global.
Rektor UIN SATU menilai penguatan moderasi beragama perlu menjadi perhatian bersama, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter mahasiswa agar mampu memahami perbedaan, menghormati keyakinan orang lain, dan menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
“Moderasi beragama merupakan bagian penting dalam menjaga kerukunan dan memperkuat persatuan bangsa. Perguruan tinggi keagamaan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, menghargai perbedaan, dan membangun sikap saling menghormati di tengah masyarakat. Karena itu, kami mendukung upaya Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama agar nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rektor UIN SATU.
Menurutnya, perhatian masyarakat internasional terhadap pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman merupakan kesempatan untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kerukunan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan dialog lintas agama dan membangun hubungan sosial yang mengedepankan penghormatan serta keterbukaan.
“Pengakuan masyarakat internasional terhadap pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman menjadi hal yang patut kita syukuri sekaligus menjadi tanggung jawab bersama. Pengalaman tersebut harus terus dirawat melalui pendidikan, dialog, dan kerja sama lintas agama. Perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk melahirkan generasi yang mampu menjaga kerukunan dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan keberagaman,” ungkapnya.
Di lingkungan kampus, penguatan moderasi beragama dapat dilakukan melalui pembelajaran, penelitian, diskusi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat. Berbagai kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami keberagaman dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, nilai toleransi tidak hanya dipelajari secara teoretis, tetapi juga diterapkan dalam interaksi sehari-hari.
Publikasi Digital Perluas Jangkauan Pesan Moderasi Beragama
Selain melalui pendidikan dan kegiatan akademik, penguatan moderasi beragama juga membutuhkan dukungan komunikasi publik yang efektif. Perkembangan teknologi digital memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi untuk menyampaikan informasi edukatif, memperkenalkan praktik baik dalam menjaga kerukunan, serta memperluas jangkauan pesan moderasi beragama kepada masyarakat.
Rektor UIN SATU menekankan pentingnya pemanfaatan media digital sebagai sarana penyebaran informasi yang bermanfaat. Publikasi melalui laman resmi perguruan tinggi dan berbagai kanal digital dapat digunakan untuk menyampaikan kegiatan, gagasan, serta kontribusi kampus dalam memperkuat toleransi dan kehidupan beragama yang harmonis.
“Penguatan moderasi beragama juga perlu didukung dengan komunikasi publik yang baik. Di era digital, perguruan tinggi harus mampu menyampaikan informasi yang edukatif, akurat, dan mudah diakses masyarakat. Publikasi digital dapat menjadi sarana untuk menyebarluaskan praktik baik tentang toleransi, memperkuat pesan kerukunan, serta memperkenalkan kontribusi perguruan tinggi dalam menjaga keberagaman,” tuturnya.
Publikasi digital juga memiliki peran dalam memperluas jangkauan informasi dari tingkat kampus hingga masyarakat nasional. Melalui pemberitaan yang akurat, artikel edukatif, dan dokumentasi kegiatan, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam membangun ruang informasi yang mencerahkan. Penyampaian informasi yang bertanggung jawab menjadi penting agar pesan moderasi beragama dapat dipahami secara tepat oleh berbagai kalangan.
Dalam hal ini, peran Humas perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam menyampaikan informasi kepada publik. Pemberitaan yang disusun secara faktual, mudah dipahami, dan dapat diakses melalui mesin pencari membantu masyarakat menemukan informasi mengenai kegiatan serta kontribusi kampus. Dengan demikian, publikasi digital tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga sarana edukasi dan penyebarluasan nilai-nilai positif.
Moderasi Beragama sebagai Tanggung Jawab Bersama
Upaya menjaga kerukunan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah maupun lembaga pendidikan saja. Tokoh agama, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan generasi muda juga memiliki peran dalam membangun hubungan sosial yang damai. Kolaborasi antarpihak diperlukan agar nilai moderasi beragama dapat tumbuh dalam kehidupan keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat luas.
Peluang kerja sama internasional yang muncul dari kunjungan Menteri Agama ke Italia dan Vatikan turut membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai kehidupan beragama dalam masyarakat majemuk. Salah satu lembaga yang disebut membuka peluang kolaborasi akademik ialah PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica) di bawah binaan Takhta Suci Vatikan. Kerja sama lintas negara berpotensi memperkaya wawasan akademik sekaligus memperluas dialog mengenai hubungan antaragama.
Bagi perguruan tinggi keagamaan Islam, perkembangan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan moderasi beragama perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan kajian ilmiah, dan komunikasi publik yang efektif. Mahasiswa sebagai generasi penerus diharapkan mampu menerapkan nilai toleransi serta mengambil bagian dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Melalui pendidikan, dialog, kolaborasi, dan publikasi digital, penguatan moderasi beragama diharapkan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Dukungan perguruan tinggi menjadi bagian dari upaya bersama untuk merawat keberagaman Indonesia sekaligus memperkenalkan pengalaman hidup rukun kepada masyarakat internasional.
